D-ONENEWS.COM

Ramai Istilah New Normal, Begini Penjelasan Pakar Sosial

Agus Wahyudi, pengamat sosial dari Universitas Nahdatul Ulama Surabaya (Unusa)

Surabaya (DOC) – Pandemi COVID-19 telah memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi dan tatanan kehidupan baru.

Mau tidak mau, setiap orang kini dipaksa melakukan suatu hal yang sebelumnya dianggap tidak biasa menjadi sesuatu yang normal di tengah pandemi.

Masyarakat harus mengurangi berbagai kegiatan di luar rumah, memakai masker jika berada di luar rumah, hingga menjaga jarak satu sama lain. Padahal sebagai mahkluk sosial sejatinya setiap orang butuh bersosialisasi dengan yang lainnya.

Beberapa bentuk perubahan perilaku tersebut yang kemudian melahirkan istilah New Normal.

Menurut Agus Wahyudi, pengamat sosial dari Universitas Nahdatul Ulama Surabaya (Unusa), new normal adalah sebuah aturan baru yang harus dijalankan masyarakat selama pandemi merebak.

“Aturan baru disini adalah protokol kesehatan yang harus diterapkan, jadi bukan kehidupan baru seperti sebelum pandemi merebak,” kata Agus, Kamis (18/6).

Namun saat ini Agus melihat masyarakat cenderung abai dengan protokol kesehatan yang seharusnya diterapkan. Padahal sekarang ini masih dalam masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjelang ditetapkannya new normal.

“Ini masih masa transisi, euforia masyarakat sudah sangat tinggi hingga abai dengan protokol kesehatan. Jadi jangan kaget kalau angka positif malah makin melonjak,” tegasnya.

Euforia masyarakat, lanjut Agus, terjadi karena sudah terlalu lamanya mereka berada di rumah. Masyarakat sudah rindu akan beraktivitas di luar rumah seperti sebelum pandemi merebak.

“Kita bisa lihat sekarang, sudah terjadi lagi kerumunan dalam masyarakat. Padahal pandemi ini masih ada, belum berakhir. Kita kan tidak tahu siapa yang jadi carrier (pembawa virus),” tukasnya.

Di tengah pelonggaran seperti sekarang ini, masyarakat seharusnya dapat menjadi lebih waspada saat beraktivitas di luar rumah. Tetap menjalankan protokol kesehatan menjadi hal wajib yang harus dilakukan.

“Masyarakat bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya, jadi harus bersikap waspada. Kondisi kita masih rawan, jangan lantas bersikap seolah-olah pandemi ini sudah tidak ada,” pungkasnya.

Sementara itu, merujuk pernyataan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, New Normal merupakan perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas secara normal, tetapi ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan COVID-19.

“Prinsip yang utama adalah harus bisa menyesuaikan pola hidup. Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal, atau kita harus beradaptasi dengan beraktivitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, dan bekerja, dan sekolah dari rumah,” jelas Wiku. (ris)

Loading...

baca juga