Resensi Novel “Matt & Mou”, Kisah Manis di Masa SMA

Judul : Matt & Mou
Pengarang : Wulan Fadila Fatia
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2016
Editor : Rayina dan eNHa
Jumlah hal : 344 halaman
Kategori : Fiksi
Ukuran : 13 x 20 cm
Kota terbit : Jakarta

Bacaan Lainnya

 

 

Novel ini ditulis oleh Wulan Fadila yang awalnya disajikan di aplikasi baca yakni Wattpad (aplikasi untuk menulis dan mempublikasikan cerita). Karena alur cerita dan penokohannya sangat menarik membuat minat pembaca semakin meningkat sehingga membuat novel ini jadi kategori novel best seller di Wattpad. Begitu pula saat diterbitkan, “Matt & Mou‟ juga menjadi target dari para pembaca dan kebanyakan dari remaja. Apalagi dari cover novel yang mempunyai warna-warni pastel, kemudian marshmellow menjadi penanda judul mereka. Cover yang cantik ini sungguh memanjakan untuk first impression calon pembaca. Siapa sangka, marshmellow ini menandakan bahwa Matt & Mou adalah dua sejoli yang sangat menyukai
marshmellow saat bersantai di café.

Novel ini sendiri menceritakan sebuah kisah dua remaja yang sudah berteman lama sejak kelas 5 SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Keatas) yakni Matt dan Mou. Dimana persahabatan mereka terjalin sangat erat karena adanya sifat dari mereka yang sangat bertolak-belakang. Matt digambarkan sosok lelaki dingin, kaku, cuek, bahkan keras namun tidak berlaku untuk Mou. Karena Matt menganggap Mou seperti adik kandungnya yang masih membutuhkan bimbingan dan dampingan. Kemudian untuk Mou, perempuan ceria, bawel, manja, dan pemalas. Jadi tak heran, bila Matt selalu menjaga dan menemani Mou kemanapun berada. Mou juga menganggap Matt seperti kakak kandung-nya sendiri.

Konflik dalam cerita ini dimulai saat Mou menyukai dan mulai menjalin hubungan dengan teman-nya Matt, yakni “Reza‟. Seorang vokalis dari sebuah band lokal yang sudah mempunyai banyak penggemar. Tak hanya memiliki suara yang indah, Reza juga mempunyai proporsi tubuh bagus, dan wajah menawan hingga membuat para cewek melihat senyuman akan berteriak kegirangan. Mengetahui hal itu, Matt memberikan beberapa syarat kepada Reza untuk mendekati Mou, dan semua disetujui oleh Reza. Disaat Mou mulai kesal dengan tingkah laku Matt yang super-duper protektif, kemudian memunculkan ide Mou akan menjodohkan Matt ke perempuan agar Matt berhenti ikut campur dalam hubungannya dan Reza. Namun, Matt tetaplah Matt yang dingin, kaku, keras ke siapapun jadi hal itu tidak mempan meskipun pihak perempuan sudah menyukai dan mengagumi Matt.

Baca Juga:  Resensi Novel "Who Am I: Maybe You Could Change Me" Karya Maharani Tasya

Sebulan kemudian, Mou ditinggal Matt tanpa kabar untuk melanjutkan pendidikan di Jerman. Hal itu membuat Mou sangat sedih karena dia harus berpisah jauh dari Matt, apalagi selama ini Mou hanya bergantung kepada Matt. Susah, sedih, senang, sengsara, bahagia semua dibagikan Mou kepada Matt. Namun Mou sadar, kini dia telah sendiri dan tidak punya tempat pulang, bahkan rumahnya tidak bisa menjadi tempat terbaik Mou dalam menaruh dan menjabarkan bebannya.

Mou menyadari bahwa kesedihannya tak sekedar rasa ketergantungan namun rasa suka yang selama ini Mou tepis. Dia sebenarnya gengsi untuk mengakui menyukai Matt, karena memang dia paling banyak mengeluarkan kalimat bahwa “sahabat tetaplah sahabat”. Kesedihan Mou semakin kelam saat dia menemukan Jurnal yang tersimpan rapi di kamar Matt, yakni berisi pesan yang akan disampaikan Matt sebelum berangkat ke Jerman. Matt juga menyukainya namun Matt tidak ingin merusak kebahagiannya dengan Reza.

Kelebihan
Novel ini mengangkat cerita yang sangat ringan dan mudah dimengerti karena memang mengambil latar belakang dunia pendidikan, tepatnya SMA. Setelah membaca buku ini, saya jadi semakin percaya bahwa tidak mungkin sejoli cowok dan cewek sahabatan tidak mempunyai rasa suka satu sama lain. Memang jarang, tapi pasti ada. Entah itu tetap saling memendam untuk menjaga hubungan pertemanan mereka, atau memilih mencoba untuk menjalin hubungan yang serius tapi ternyata rusak ditengah jalan, akhirnya kehilangan pacar dan sahabat. Lalu penokohan yang dibangun oleh penulis ini dari Mou sungguh me-motivasi para pembaca. Mou tetap berlaku ceria, kuat, dan tidak menyerah saat tahu bahwa ibu-nya adalah istri kedua dari ayahnya. Mou sangat sedih, tapi dia tidak ingin orang sekitarnya khawatir dan menganggap Mou lemah. Memang Mou terlihat menjengkelkan atas kebawelan-nya namun hanya itu yang bisa jadi
tameng untuk Mou agar tetap kuat. Kemudian penokohan untuk Matt, menggambarkan sosok lelaki yang kaku, dingin, cuek, susah bergaul ke semua orang, namun berubah drastis menjadi lembut, perhatian, lunak untuk Mou, perempuan yang dicintainya. Cerita ini tidak se-menarik itu namun penulis berhasil membuat kata demi kata, kalimat demi kalimat, konflik demi konflik yang membuat pembaca semakin membalikkan kertas ke halaman berikutnya hingga ending.

Baca Juga:  Resensi Novel "Alone" Karya Chelsea Karina

Kelemahan
Ada beberapa kelemahan novel ini dari saya, bila kita baca dengan sangat teliti, ada beberapa penentuan cerita yang tidak konsisten. Kemudian cerita ini sangat ringan hingga dapat dengan mudah ditebak oleh pembaca. Kemudian dalam novel masih ada beberapa typo ataupun tata bahasa yang masih belum
sepenuhnya sempurna. Kemudian penokohan yang tiba-tiba muncul seakan-akan penting tapi
ternyata tidak berpengaruh apa-apa, hal itu membuat pembaca bingung. Kemudian terkait ending
yang disajikan, dimana setelah Matt hilang tanpa kabar sama sekali hingga setahun. Matt datang
di acara kelulusan kelas 12 SMA Mou dengan membawa cincin bermaksud melamar Mou. Bagi
saya ending seperti ini tidak realistis, bagaimana bisa dalam satu tahun tanpa kabar, tiba-tiba
hadir lalu melamar. Meskipun ada epilog untuk memperjelas ending, bagi saya tetap tak
menghibur dan membuat ending semakin wow, endingnya tetap biasa saja. Tetapi karena alur
cerita dan konflik menarik, ending tak terlalu jadi masalah. (FR/R7)

Pos terkait