Jakarta,(DOC) – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka merespons kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengajak lima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi meninjau langsung pelaksanaan program tersebut di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kelima mahasiswa berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Sanata Dharma, Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dan Institut Seni Budaya Indonesia.
“Kami ditemani beberapa perwakilan mahasiswa. Kami akan berangkat ke Ende, Gorontalo, dan juga Papua,” kata Gibran di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Gibran mengapresiasi mahasiswa yang menyampaikan aspirasi secara damai, termasuk mereka yang mengkritik dan meminta pemerintah menghentikan program MBG.
Ajak Mahasiswa Lihat Kondisi Lapangan
Gibran menegaskan pemerintah terus memperbaiki tata kelola berbagai program prioritas, termasuk MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.
“Kita pastikan setiap rupiahnya benar-benar termanfaatkan dengan baik dan yang paling penting terbebas dari praktik korupsi,” ujarnya.
Setibanya di Kabupaten Ende, NTT, Gibran bersama para mahasiswa mengunjungi SMPN 1 Ndona untuk melihat pelaksanaan MBG. Ia juga berkeliling kelas dan berdialog dengan para siswa.
Dari Ndona, Gibran melanjutkan perjalanan ke Desa Niowula untuk meninjau SDN Wolomoni serta berdiskusi dengan guru dan orang tua murid.
Di hadapan warga, Gibran menjelaskan alasan dirinya mengajak mahasiswa mengikuti kunjungan tersebut.
“Ini saya ajak perwakilan mahasiswa. Kemarin banyak yang protes agar MBG dihentikan. Karena itu saya ajak mereka melihat langsung kondisi di daerah yang jauh dari Jakarta,” katanya.
MBG Dinilai Penting untuk Daerah 3T
Dalam dialog tersebut, Gibran meminta masukan dari guru dan orang tua murid mengenai pelaksanaan MBG. Ia menilai program tersebut sangat penting, terutama bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Saya pribadi menilai program ini harus lanjut, terutama di daerah 3T,” tegasnya.
Meski demikian, Gibran mengakui masih ada sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan MBG. Karena itu, pemerintah terus melakukan evaluasi dan perbaikan tata kelola program.
Menurutnya, masa libur sekolah menjadi momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN).
Selain melakukan evaluasi, Gibran juga mendukung pelibatan lebih banyak pihak dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, program tersebut tidak hanya bisa melibatkan kantin sekolah, tetapi juga pesantren, gereja, masjid, SMK Tata Boga, kader PKK, hingga orang tua murid.
“Semakin banyak melibatkan masyarakat, terutama orang tua murid, pelaksanaannya akan semakin baik karena mereka memahami kebutuhan anak-anak,” ujarnya.
Mahasiswa Ingin Lihat Dampak Program
Salah seorang mahasiswa Universitas Indonesia, Daffa Ulhaq, mengaku ingin melihat langsung implementasi program pemerintah di lapangan.
“Saya ingin mengetahui seperti apa pelaksanaan program dan kebijakan pemerintah di daerah,” katanya.
Sementara itu, Keletus Sakaro dari Universitas Sanata Dharma berharap kunjungan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi pembangunan Papua, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan.
Mahasiswa UPH, Nolan Christopher Adam, juga memanfaatkan kesempatan itu untuk melihat kondisi layanan kesehatan di wilayah timur Indonesia serta dampak program MBG terhadap penanganan stunting.
Menurutnya, kunjungan tersebut memberikan pengalaman berharga untuk memahami langsung pelaksanaan program pemerintah di daerah. (rd)





