Seabrek Legacy Wali Kota Risma Selama 10 Tahun Pimpin Surabaya

“Salah satu keberhasilan seorang pemimpin, bisa dilihat dari legacy (warisan) yang ditinggalkannya. Selama 10 tahun memimpin Surabaya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah banyak menciptakan legacy. Seabrek legacy-nya itu, akan abadi dalam sejarah perjalanan Kota Surabaya.”

Surabaya,(DOC) – Dia bukan perempuan biasa, tapi dia pemimpin yang luar biasa. Menjadi perempuan pertama dalam sejarah Wali Kota Surabaya, ia berhasil merubah wajah kota. Di tangannya, Surabaya menjelma menjadi sebuah kota yang diperhitungkan dunia. Kerjanya nyata, tak hanya retorika. Kini, seabrek legacy-nya sudah bisa dirasakan oleh warga.

Selama 10 tahun menjadi wali kota, hidupnya diwakafkan demi membangun Surabaya. Dalam kamus kepemimpinannya, seakan tidak ada kata lelah dan menyerah. Hari libur pun dia gunakan untuk bekerja. Waktu 24 jam, sekaan kurang baginya. “Terkadang, saya merasa, waktu 24 jam kurang untuk bekerja melayani warga,” kata Wali Kota Risma dalam berbagai sambutannya.

Bacaan Lainnya

Ia mengaku rela melakukan ini semua karena sejak awal dia dilantik menjadi Wali Kota Surabaya, ia sudah mewakafkan diri dan nyawanya untuk Surabaya. Makanya, turun langsung ke gorong-gorong untuk mengecek saluran yang tersumbat, bukan pekerjaan luar biasa baginya. Dia tak kapok kendati pernah patah tangan akibat terkilir saat loncat dari gorong-gorong. Saat hujan deras membuat banjir di beberapa titik, ia rela tidak tidur dan langsung bergegas memantau banjir, keliling Surabaya.

Bersama sopir pribadinya dan terkadang naik taksi, ia tak takut kehujanan menuju pintu-pintu air dan memastikan rumah pompa di berbagai titik berfungsi dengan baik. Saat menemukan pompa yang rusak, ia cerewet meminta agar pompa itu segera dibenahi. Bahkan, apabila ada kemacetan di suatu titik yang dilaluinya, tak jarang dia turun dari mobilnya dan langsung mengurai arus lalu lintas yang ditemuinya.

Tangan dinginnya, memang mampu merubah Surabaya. Pembangunan infrastruktur begitu pesat. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) terus meningkat, dan penanganan kesejahteraan sosial selalu menjadi prioritas yang direalisasikan dengan cepat. Ia selalu konsisten membangun dan mengembangkan Surabaya dari berbagai aspek.

Peraih penghargaan Scroll of Honour Award ini juga membocorkan kunci sukses pembangunan Surabaya. Menurutnya, kota ini bukan kata benda yang tidak bisa diatur seenaknya. Sebab, di dalam kota itu ada manusia yang miskin dan kaya, hitam dan putih, besar dan kecil, sehingga tidak mudah memang mendesain suatu kota, tapi kalau sudah niatnya dari awal baik, maka akan dimudahkan. “Jadi, saya selalu sampaikan bahwa semuanya harus berpijak pada aturan dan semua proses yang dilalui harus sesuai aturan, itu yang selalu saya tekankan,” kata Wali Kota Risma.

Ia juga menegaskan, dalam pembangunan Surabaya, tujuan utamanya adalah kesejahteraan warga, bukan penghargaan yang sering diraihnya. Partisipasi warga juga menjadi poin penting dalam pembangunan Kota Surabaya. “Jadi, saya membangun kota ini tidak asal, dan muaranya adalah untuk kesejahteraan warga. Buat apa saya bangun kota yang maju tapi warganya tidak bisa sejahtera, tidak ada gunanya. Makanya saya juga mengimbanginya dengan peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia), sehingga ketika kota ini maju, maka warga bisa ikut menikmatinya, bukan jadi penonton di kotanya sendiri,” tegasnya.

Kerja keras itu sudah berbuah manis, berbagai penghargaan nasional hingga internasional disapu bersih. Total penghargaan selama 2010-2020, sebanyak 317 penghargaan, baik penghargaan nasional maupun internasional. Kini, Surabaya semakin mendunia dan sudah sejajar dengan kota-kota besar di dunia. Dan yang paling penting, legacy Wali Kota Risma nampak dan nyata adanya.

Baca Juga:  Wali Kota Surabaya Keluarkan SE Kurangi Aktivitas Warga Diluar Rumah Hingga Penutupan Tempat Hiburan

Sejak awal kepemimpinannya dan bahkan sebelum menjadi wali kota, ia selalu konsisten membangun taman dan ruang terbuka hijau di Kota Pahlawan. Ia juga pernah mencanangkan kota seribu taman bagi Kota Surabaya. Perlahan dia pun mampu mewujudkannya. Setidaknya, saat ini sudah ada sebanyak 573 taman kota yang tersebar di berbagai titik di Surabaya. Semua taman-taman itu berbeda-beda tema dan luasannya. Bahkan, ada taman yang merupakan bekas tempat pembuangan sampah (TPA), yaitu Taman Harmoni yang terus dipercantik hingga saat ini.

“Kalau luas total taman di seluruh Surabaya  hingga tahun 2020 ini sudah mencapai 1.651,24 hektar. Sementara luas ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya sudah mencapai 7.356,24 hektar atau 21,99 persen dari luas Kota Surabaya, sehingga RTH publik kami sudah di atas target minimal sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) PU nomor 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, Anna Fajriatin.

Kemudian pengelolaan sampah juga terus disempurnakan. Saat ini sudah ada sebanyak 533 bank sampah di Surabaya. Sudah ada 9 lokasi Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) 3R (Reduce, Reuse, Recyle) di beberapa tempat di Surabaya, ada pula 28 rumah kompos di berbagai titik di Surabaya. Bahkan, pengelolaan sampah di Surabaya sudah bisa menghasilkan listrik di PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) Benowo. “Kampung-kampung juga diajari cara mengolah sampah, sehingga sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo tidak terlalu banyak meski pertumbuhan penduduk semakin meningkat,” kata dia.

Selain itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyudrajat juga menjelaskan berbagai legacy Wali Kota Risma selama 10 tahun memimpin Surabaya. Di bidangnya, ia menjelaskan bahwa 59 traffic light sudah menggunakan solar cell untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, dan di 615 lokasi traffic light sudah dipasangi CCTV. Sedangkan di objek vital atau khusus sudah ada 1.063 CCTV dan selama Wali Kota Risma juga sudah membangun 5 park and ride di berbagai titik di Surabaya.

“Selama 10 tahun terakhir ini, kami juga terus mengembangkan SITS (Surabaya Intelegent Transport System), menciptakan berbagai aplikasi seperti aplikasi Go-Bus, terus memperbanyak mesin parkir meter dan yang sangat paling fenomenal adalah inovasi Suroboyo Bus yang membayar tarifnya dengan sampah botol plastik, bahkan botol itu sudah pernah kami lelang dan hasilnya kembali ke kas daerah,” kata Irvan.

Legacy fenomenal lainnya adalah Command Center 112 yang ada di gedung Siola. Terobosan ini menjadi mata dan telinga Wali Kota Risma dalam merespon berbagai macam kedaruratan di Kota Surabaya. Selain laporan dari warga, tim CC112 juga memantau kondisi Surabaya melalui ribuan CCTV yang telah dipasang. CCTV ini juga nyambung ke ruang kerja Wali Kota Risma, sehingga di dinding sisi timur ruang kerja Wali Kota Risma penuh dengan monitor CCTV.

Yang tak kalah fenomenal adalah kebijakan Wali Kota Risma dalam menutup lokalisasi di Kota Surabaya. Meski berbagai ancaman silih berganti, termasuk ancaman pembunuhan, tapi Wali Kota Risma tak pernah gentar untuk menutup enam lokalisasi. Ia terus bergerak hingga berhasil menutup enam lokalisasi di Surabaya, yaitu lokalisasi Dupak Bangunsari yang ditutup pada 21 Desember 2012, lokalisasi Tambak Asri ditutup pada 28 April 2013, Klakah Rejo ditutup pada 25 Agustus 2013, Sememi ditutup pada 22 Desember 2013, Jarak ditutup pada 18 Juni 2013 dan terakhir lokalisasi Dolly ditutup pada 14 Juni 2014.

“Setelah ditutup, mereka dibina, dilatih, dan tidak dibiarkan. Akhirnya, di kawasan eks lokalisasi itu banyak berkembang UMKM dan perekonomian warga menjadi lebih baik,” kata Kepala Dinsos Surabaya Suharto Wardoyo.

Baca Juga:  Ketua MPR RI Apresiasi Kinerja Wali Kota Risma, Surabaya Maju Pesat

Program kesejahteraan sosial masyarakat juga digenjot di masa kepemimpinan Wali Kota Risma. Dalam bidang ini, ia menggagas permakanan hingga memperbanyak rehabilitasi rumah tidak layak huni (rutilahu) atau bedah rumah. Ia tak ingin ada satu pun warganya yang kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal.

Dinsos mencatat, sejak tahun 2013-2019, total 30.865 jiwa yang sudah menerima permakanan. Mereka terdiri dari 18.779 jiwa lansia, 5.750 jiwa anak dan 6.336 jiwa penyandang disabilitas. “Mulai tahun 2020, kegiatan permakanan dialihkan ke masing-masing kelurahan untuk mendekatkan ke sasaran penerima permakanan,” kata Anang-sapaan Suharto Wardoyo.

Sedangkan program rehabilitasi rumah tidak layak huni (Rutilahu) atau bedah rumah, sejak awal digagas tahun 2011-2020, pemkot telah melakukan bedah rumah sebanyak 7.258 rumah. Wali Kota Risma juga sangat perhatian kepada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Warga yang istimewa ini akhirnya disedikan tempat khusus.

Setidaknya ada lima tempat khusus untuk menampung mereka, yaitu UPTD Liponsos Keputih (menampung sementara hasil razia ODGJ, gelandangan pengemis dan anjal), UPTD Kampung Anak Negeri (penampungan anak jalanan), UPTD Babat Jerawat (penampungan penderita kusta), Liponsos Kalijudan (penampungan Anak Berkebutuhan Khusus), dan UPTD Griya Wreda (penampungan lansia telantar).

“Mereka ini dirawat dengan penuh kasih sayang oleh jajaran Pemkot Surabaya. Diberi makanan bergizi, dicukupi kebutuhannya dan bahkan ada yang diberi pelatihan-pelatihan. Bagi penghuni Liponsos Keputih yang sudah sembuh, pemkot juga ikut mengantarkan mereka ke rumah asalnya,” tegasnya.

Seabrek legacy Wali Kota Risma selama 10 tahun memimpin Surabaya juga terlihat di bidang infrastruktur. Dalam bidang ini, ia berhasil merealisasikan berbagai pembangunan yang sudah ada sejak lama di master plan Surabaya, salah satunya Frontage Road Ahmad Yani sisi barat yang dimulai dari depan City of Tomorrow (Cito) hingga akhirnya tuntas di FR Wonokromo. Awalnya, pembangunan frontage road sisi barat itu dimulai dengan pembebasan lahan sejak tahun 2010, dan pembangunan fisiknya dimulai sejak tahun 2012.

“Jadi, pada 2012-2016 kita melakukan pembangunan fisik dari Cito hingga Royal Plaza sepanjang 4,7 kilometer. Kemudian sisanya dari depan Royal Plaza hingga frontage road Wonokromo sepanjang sekitar 1,2 kilometer tuntas di tahun 2019,” kata Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Erna Purnawati.

Di masa kepemimpinan Wali Kota Risma, pihaknya juga menuntaskan pembangunan frontage road Jalan Ahmad Yani sisi timur. Bahkan, selama 10 tahun Wali Kota Risma, sudah menuntaskan pembangunan Jalan Merr yang merupakan salah satu rangkaian jalan arteri primer dan menjadi pintu gerbang Kota Surabaya di sisi timur. “Jalan Merr atau Jalan Ir. Soekarno ini panjangnya 10,75 kilometer yang dibangun sejak 1996, dan tuntas di masa Bu Risma,” tegasnya.

Jalan baru lainnya yang dibangun di masa Wali Kota Risma adalah Jalan Luar Lingkar Barat (JLLB), Jalan Luar Lingkar Timur (JLLT), Jalan Wiyung, Jalan Simpang Dukuh, Jalan Kedung Baruk, jalan akses TPA Benowo, jalan akses ke lapangan tembak dan berbagai jalan baru lainnya. Jika ditotal, pembangunan jalan baru selama Wali Kota Risma mencapai 259 kilometer. “Kalau pembebasan lahannya mulai 2010-2020, kami sudah melakukan pembebasan lahan sebanyak 2.665 persil dengan luas 419.942 meter persegi, dan total nominalnya sebesar Rp 1,9 triliun lebih,” tegasnya.

Di sisi yang lain, berbagai pedestrian juga banyak dibangun, hingga tahun 2020 ini, panjang pedestrian di Kota Surabaya sudah mencapai 101.193,30 meter. Di bawah pedestrian dan beberapa jalan, terdapat saluran besar yang dipasangi box culvert, panjang saluran hingga saat ini sudah mencapai 232.884,6 meter. “Kami pasang box culvert itu untuk antisipasi banjir. Bahkan, untuk antisipasi banjir, kami juga terus memperbanyak bozem atau waduk, jumlahnya hingga saat ini sebanyak 75 bozem,” imbuhnya.

Baca Juga:  Telusuri Jejak Negaranya, Wali Kota Risma Terima Kunjungan Dubes Armenia dan Rusia

Wali Kota Risma juga terus membangun rumah poma, total sudah ada 59 rumah pompa hingga tahun ini, dan disiapkan pula 111 unit genset untuk antisipasi listrik padam. Bahkan, sejak awal kepemimpinannya, kapasitas pompa yang kurang maksimal banyak diganti. “Hampir semua pompa ditambah kapasitasnya. Saat ini sudah banyak pompa air yang memiliki kapasitas 5 meter kubik, sehingga sangat cepat menyedot air, ada pula pompa yang bisa kami setting kapasitasnya, jadi tergantung banyaknya air yang ingin kita alirkan,” kata dia.

Di samping itu, Wali Kota Risma juga terus memperbanyak pembangunan jembatan. Pada tahun 2010, jumlah jembatan di Kota Surabaya hanya 6 jembatan, setelah itu setiap tahunnya ada pembangunan dan hingga saat ini sudah ada 134 jembatan. “Tahun ini, kami fokus pada pembangunan Jembatan Joyoboyo, kami targetkan tahun ini selesai. Nantinya, jembatan ini akan menjadi salah satu ikon baru di Kota Surabaya,” ujarnya.

Di samping itu, Wali Kota Risma juga terus melakukan pavingisasi di berbagai tempat di Surabaya. Data Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang menunjukkan bahwa pada tahun 2010 ada pembangunan paving sepanjang 64.225 meter di 210 lokasi, tahun 2011 sepanjang 61.699 meter di 151 lokasi, tahun 2012 sepanjang 48.891 meter di 140 lokasi, tahun 2013 sepanjang 46.827 meter di 134 lokasi, tahun 2014 sepanjang 39.292 meter di 134 lokasi, tahun 2015 sepanjang 37.217 meter di 122 lokasi, tahun 2016 sepanjang 39.562 meter di 146 lokasi, tahun 2017 sepanjang 205.053 meter di 1.220 lokasi, tahun 2018 sepanjang 199.081 meter di 895 lokasi, dan tahun 2019 sepanjang 203.430 meter di 777 lokasi.

Dalam pendidikan, Wali Kota Risma juga banyak menelorkan legacy. Saat nasional ramai menerapkan zonasi, di Surabaya sudah menerapkan sekolah kawasan sejak beberapa tahun lalu. Bahkan, Wali Kota Risma juga meneruskan dan mengembangkan pendidikan gratis untuk sekolah dasar dan sekolah menengah melalui pemberian BOPDA. Memenuhi sarana prasarana sekolah di berbagai wilayah Surabaya.

“Selama 10 tahun ini, pembangunan SD baru di Surabaya ada 4 sekolah dan SMP baru sebanyak 20 sekolah. Di masanya Bu Risma ini, kita juga memperbanyak beasiswa, termasuk beasiswa pilot dan pramugari, sehingga anak-anak ini tidak akan pernah melupakan jasa Bu Risma dan jajaran Pemkot Surabaya,” kata Kepala Dinas Pendidikan Supomo.

Sementara itu, Ahli permukiman dan perkotaan yang merupakan Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof. Johan Silas mengatakan Wali Kota Risma ini memang membangun Kota Surabaya dalam kurun waktu 10 tahun masa jabatannya. Namun lebih dari itu, sejatinya ia telah membangun Kota Surabaya lebih dari 10 tahun ke depan, karena kemajuan dan pembangunannya sangat pesat.

“Saya sudah 55 tahun mendampingi Pemkot Surabaya, dan saya merasa puas dengan perkembangan pesat kota ini, karena ide-ide saya yang dulu pernah saya tuangkan dalam master plan Surabaya, akhirnya di tangan Bu Risma bisa direalisasikan semuanya. Banyak legacy-nya untuk Surabaya, dan itu akan tercatat dalam sejarah Surabaya,” kata Prof Silas.

Menurut dia, saat ini Surabaya sudah menjadi kota terbaik di Indonesia. Makanya, tantangan ke depannya bagi Surabaya adalah menjadi bagian dari sistem tata kota dunia. Sebab, pencapaian yang lain sudah terlampaui semuanya, seperti kota cerdas, kota layak anak, dan kota lingkungan selalu terbaik. “Saya yakin Surabaya bisa mencapai itu dan terus menjadi kota terbaik di Indonesia dan bahkan dunia,” imbuhnya.(red)

 

 

 

 

 

Pos terkait