Sebulan Pasca Bencana Sulteng, Ribuan Anak Masih Tunawisma dan Putus Sekolah

Palu,(DOC) – Kurang lebih 375 ribu anak-anak masih membutuhkan bantuan dan berbagai layanan penting, pasca sebulan terjadinya gempa bumi dan tsunami di Palu Sulawesi Tengah(Sulteng) dan daerah terdampak disekitarnya.

Lebih dari 2.000 orang meninggal dunia karena gempa bumi, tsunami, dan tanah longsor serta likuifaksi, dan layanan utama untuk anak-anak termasuk sekolah dan pusat kesehatan masih belum bisa beroperasi.

Bacaan Lainnya

UNICEF terus bekerja dengan pemerintah Indonesia dan mitra lainnya untuk memberikan bantuan mendesak kepada anak-anak yang paling rentan, menangani prioritas termasuk bantuan medis, air bersih, kebersihan dan sanitasi dasar, pendidikan, tempat tinggal, dan perlindungan.

“Hampir satu bulan setelah bencana, kehidupan ratusan ribu anak di Sulawesi Tengah masih jauh dari normal. Anak-anak tetap tunawisma, putus sekolah dan membutuhkan dukungan psikososial untuk membantu mereka mengatasi trauma yang mereka alami. Kami(UNICEF,red) bersama dengan mitra pemerintah, berupaya meningkatkan respons untuk membantu sebanyak mungkin anak, secepatnya yang kami bisa,” kata Debora Comini, Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, dalam releasenya, Jumat(26/10/2018).

Lebih dari 1.500 sekolah rusak dan menyebabkan sekitar 184.000 pelajar yang tidak bisa belajar.

Menurut Debora, salah satu prioritas UNICEF di Sulawesi adalah untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengembalikan anak-anak ke sekolah, sebagai salah satu langkah paling penting dalam memulihkan keadaan normal kepada masyarakat.

UNICEF telah mengirimkan bantuan gelombang pertama berupa 200 sekolah dalam bentuk tenda, 200 perlengkapan sekolah dalam kotak dan 50 peralatan Pendidikan Anak Usia Dini.

UNICEF merupakan badan PBB pertama yang menjangkau warga terdampak di Sulawesi Tengah dengan pasokan darurat yang penting.

“Pada saat krisis, membawa anak-anak kembali ke kelas adalah cara vital mengembalikan rasa normalitas pada kehidupan anak-anak, menyediakan ruang yang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan juga kesempatan untuk mulai menangani trauma apa pun yang mereka telah alami,” kata Ms Comini.

Baca Juga:  UNICEF dan Kemensos Mulai Identifikasi Anak Yang Terpisah di Lokasi Terdampak Tsunami

UNICEF dan mitra juga bekerja dengan pemerintah provinsi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 152.000 orang yang kekurangan akses ke air bersih, sanitasi dasar, dan barang-barang kebersihan. Pemetaan sistem pipa air perkotaan di Palu yang menunjukkan bahwa jaringan tersebut telah rusak parah.

UNICEF juga bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, dan mitra, telah memobilisasi bantuan dan dukungan dalam menyelamatkan jiwa dengan penyediaan imunisasi, pasokan air dan sanitasi, serta layanan pelacakan keluarga dan dukungan psikososial kepada lebih dari 4.500 anak.

“Berkat dukungan para donor dan mitra, UNICEF dapat merespon dengan cepat segera setelah bencana terjadi. Namun, masih banyak yang harus dilakukan dalam beberapa bulan ke depan. Anak-anak dan keluarga akan membutuhkan komitmen, dukungan berkelanjutan untuk mengembalikan kehidupan mereka ke jalurnya,” tambah Comini.

UNICEF telah meluncurkan ‘Aksi Kemanusiaan untuk Anak-Anak’ (HAC) sebesar USD26,6 juta untuk periode enam bulan untuk tanggapan segera, pemulihan awal dan bantuan rehabilitasi untuk anak-anak yang terkena dampak bencana di Sulawesi, serta untuk anak-anak dan masyarakat terdampak gempa bumi yang menghancurkan bagian Lombok pada bulan Agustus lalu.

“Hingga 25 Oktober, sudah terkumpul dana sebesar USD 7,5 juta dari sumbangan public,” pungkasnya.(r7)

Pos terkait