
Jakarta, (DOC) – Antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang mengular di sejumlah daerah rupanya bukan dipicu oleh kelangkaan stok nasional, melainkan terhambatnya jalur distribusi akibat fenomena El Nino.
Cuaca ekstrem ini menyebabkan debit air sungai surut hingga mengering, padahal sungai merupakan urat nadi pengiriman BBM menggunakan kapal tongkang.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa pasokan BBM terpaksa dialihkan sepenuhnya menggunakan truk tangki.
Namun, keterbatasan kapasitas angkut truk dibandingkan kapal membuat waktu distribusi menjadi jauh lebih lama.
“Truk ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan menggunakan kapal di sungai. Jadi, kalaupun terjadi antrean, itu lebih disebabkan oleh kondisi El Nino, bukan karena ketahanan stok,” tegas Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (5/10/2026).
Gunakan Metode Hunting Demi Amankan Stok Nasional
Selain kendala distribusi darat, ESDM juga harus berpacu menjaga ketersediaan BBM di tingkat nasional. Sejak meluasnya konflik di Timur Tengah, mekanisme pengadaan BBM melalui lelang kerap sepi peminat.
Untuk menyiasatinya, pemerintah menerapkan metode hunting yakni secara aktif berburu pasokan ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok.
Meski skema hunting berisiko melambungkan harga beli BBM, langkah terobosan ini terbukti ampuh mengamankan ketahanan stok nasional hingga 18–20 hari ke depan.
Kini, fokus utama pemerintah bersama pemerintah daerah adalah memastikan pasokan darat tersebut dapat tiba tepat waktu di titik-titik krisis.





