Jakarta,(DOC) – Seorang warga Palupi kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumadi Lebang menceritakan terjadinya gempa berkekuatan 7.7 Skala Richter (SR) yang mengguncang Kabupaten Donggala, hingga berdampak di kota Palu, Jumat(28/9/2018) sore sekitar pukul 17.02 WIB.
Jumadi menyampaikan kronologis gempa bumi yang berlangsung cepat, kepada Tomi Lebang kakaknya yang tinggal di Tebet, Jakarta Pusat.
Tomi mendapatkan sambungan telepon dari adiknya itu tepat pukul 06.54 WIB, Sabtu(29/9/2018). Sebelumnya, ia kesulitan menghubungi Jumadi di Palu karena saluran komunikasi terputus kemarin.
Menurut Jumandi, gempa terjadi menjelang adzan Mahgrib, Jumat(28/9/2018) sore.
Saat itu, langit sore menggelap karena mendung pekat, dan dirinya berkomunikasi dengan kakaknya di Jakarta melalu aplikasi whatsapp di komputer.
Yusrainy istri Jumadi dan kedua anaknya sedang berada di ruang tengah. Sedangkan bapak mertuanya yang berkunjung di rumahnya di Palu sedang berwudhu di kamar mandi.
“Lalu tiba-tiba, meja dan komputer terangkat lalu terbalik. Benda-benda berjatuhan. Bumi berguncang hebat. Suara orang-orang melolong terdengar panik dari tetangga. Listrik mati tiba-tiba, lampu padam dan di dalam rumah jadi gelap gulita,” jelas Jumadi kepada Tomi.
Jumadi panik dan berusaha berdiri ketika lantai masih berayun-ayun. Ia berjalan seraya meraba dinding, mencari dua putranya yang berusia 10 tahun dan masih balita. Akan tetapi, tidak ia temukan, sehingga ia makin panik dan limbung.
“Suara benda-benda berjatuhan di kegelapan, tanah yang berayun keras dan cepat, lalu lemari-lemari bergeser dan tumbang, mendatangkan bayangan yang buruk dalam sekejap,” katanya.
Kemudian, ia menuju pintu keluar. Keadaan di luar rumah lebih terang. Jumadi langsung menemukan istri, kedua putranya, serta ayah dan ibu mertuanya yang sudah berada di halaman depan rumah. “Ayah mertuanya mengalami luka-luka karena terhempas ke dinding kamar mandi,” jelasnya.
Sementara itu, gempa dan tsunami yang menimpa Donggala dan kota Palu Sulawesi Tengah, hingga kini masih membuat lumpuh aktifitas perekonomian warga.
Alat komunikasi dan listrik penerangan juga masih belum berfungsi normal.
Warga terdampak yang selamat berpindah tempat untuk tinggal di tempat pengungsian.
Berdasarkan data BNPB, korban yang meninggal akibat gempa dan tsunami mencapai 384 jiwa dan korban yang mengalami luka-luka mencapai 504. Sementara 29 orang dinyatakan hilang.(yun/wat)
