Jakarta (DOC) – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan, sebanyak 369 pasien positif dan 32 meninggal dunia akibat virus corona di Indonesia per Jumat, 20 Maret 2020. Meski data terus bergerak, jumlah tersebut membuat tingkat kematian di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.
Menurut data yang dipaparkan oleh Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB., fatality rate (angka kematian) di dunia akibat virus corona rata-rata adalah 4 persen. Sementara, Indonesia memiliki fatality rate sebesar 8,6 persen.
“Indonesia angka mortalitas tertinggi di dunia. Italia 8,5 persen. Dunia rata-rata 4 persen,” kata Ari dalam telekonferensi bersama Medicine UI baru-baru ini.
Padahal, Ari menyebut tingkat kematian akibat COVID-19 seharusnya rendah. Hanya saja, tingkat penyebarannya memang sangat tinggi. Terlebih, jika virus ini menular dan menyerang pada kelompok yang rentan, maka dapat memicu kematian.
“Umumnya, kematian karena penyakit penyerta seperti kencing manis (diabetes), PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) berhubungan dengan rokok dan stroke,” katanya lagi.
Selain itu, usia yang renta membuat virus corona ini lebih mematikan. Sebab, virus tersebut mampu membuat tubuh renta cenderung mengalami kesakitan lebih parah.
“Lalu usia, umur di atas 60 tahun. Makin tinggi usia, risiko terkena makin tinggi. Makin tinggi usia, kemungkinan capai keparahan makin tinggi,” paparnya.
Untuk itu, Ari menegaskan agar kelompok rentan tersebut harus berdiam diri di rumah selama masa social distancing. Apalagi, banyak pasien yang saat ini dinyatakan positif namun hanya menunjukkan gejala yang sangat sedikit.(viv)




