Work From Mall Dorong Aktivitas Belanja Jelang 2026

Work From Mall Dorong Aktivitas Belanja Jelang 2026

Surabaya,(DOC)Industri ritel nasional mulai menunjukkan sinyal pemulihan menjelang akhir tahun 2025. Momentum libur Natal dan Tahun Baru menjadi pendorong utama meningkatnya aktivitas di pusat perbelanjaan, yang diperkirakan terus menguat hingga pergantian tahun.

Bacaan Lainnya

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengatakan sejumlah indikator usaha ritel bergerak positif sejak periode Natal. Peningkatan tersebut di tandai dengan bertambahnya jumlah pengunjung di berbagai pusat perbelanjaan di Tanah Air.

“Saat ini beberapa indikator industri usaha ritel di Indonesia telah menunjukkan pergerakan peningkatan pada saat Natal dan di perkirakan akan terus meningkat secara bertahap menjelang akhir tahun dan Tahun Baru,” ujar Alphonzus, Jumat (2/1/2026).

Untuk mengoptimalkan momentum libur panjang, pengelola pusat perbelanjaan menerapkan dua strategi utama. Pertama, menghadirkan berbagai acara, atraksi, dan hiburan tematik guna menciptakan pengalaman belanja yang berbeda. Kedua, memperkuat program promosi untuk mendorong belanja masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru.

“Beragam kegiatan seperti acara seni, budaya, musik, dekorasi tematik, hingga atraksi khusus di hadirkan agar masyarakat merasakan suasana Natal dan Tahun Baru yang unik dan tidak di temukan dalam keseharian,” jelasnya.

Selain menghadirkan hiburan, program promosi dan diskon menjadi magnet utama bagi pengunjung. Kombinasi antara pengalaman dan harga yang menarik di nilai mampu mempertahankan pusat perbelanjaan sebagai destinasi favorit masyarakat.

“Kombinasi antara acara dan promo membuat pusat perbelanjaan tetap menjadi tujuan utama masyarakat untuk berbelanja dalam suasana kemeriahan Natal dan Tahun Baru,” kata Alphonzus.

Bukan Lagi Tempat Transaksi

Ia menambahkan, pusat perbelanjaan kini tidak lagi sekadar tempat transaksi, melainkan telah menjadi bagian dari aktivitas liburan keluarga. Banyak masyarakat memilih menghabiskan waktu libur dengan berwisata sekaligus berbelanja di mal.

“Masyarakat menjadikan pusat perbelanjaan sebagai opsi utama untuk berbelanja sambil liburan, atau sebaliknya, berlibur sambil berbelanja,” ujarnya.

Baca Juga:  Pengusaha Mal Sambut Larangan Impor Balpres, Penjualan Brand Lokal Mulai Meningkat

Dari sisi pola konsumsi, Alphonzus mengungkapkan adanya pergeseran kategori belanja selama masa libur panjang. Menjelang Natal dan Tahun Baru, penjualan masih di dominasi produk non-makanan dan minuman, seperti fesyen dan kebutuhan hadiah. Namun, saat libur berlangsung, konsumsi beralih ke sektor makanan, minuman, serta hiburan.

“Menjelang Natal dan Tahun Baru, kategori non-makanan dan minuman mendominasi. Saat libur berlangsung, belanja masyarakat cenderung bergeser ke makanan, minuman, dan hiburan,” ungkapnya.

Seiring tren tersebut, APPBI memproyeksikan tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan meningkat sekitar 10 hingga 15 persen di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Di perkirakan rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan menjelang dan selama Natal dan Tahun Baru meningkat sekitar 10–15 persen di bandingkan tahun lalu,” ujarnya.

Dorongan Pemerintah

Selain faktor musiman, program Work From Mall (WFM) yang di dorong pemerintah turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan aktivitas ritel menjelang tutup tahun 2025. Program ini bertujuan menjaga dan mendorong konsumsi masyarakat di tengah dinamika ekonomi.

“Tujuan utama program Work From Mall adalah untuk meningkatkan konsumsi masyarakat, khususnya menjelang akhir tahun,” jelas Alphonzus.

Meski demikian, ia menilai dampak WFM terhadap kinerja ritel masih terbatas. Pasalnya, tidak semua perusahaan memiliki fleksibilitas untuk menerapkan kebijakan kerja dari pusat perbelanjaan.

“Program Work From Mall berdampak pada peningkatan kunjungan dan penjualan di beberapa kategori produk, namun pengaruhnya tidak signifikan karena tidak semua perusahaan dapat menerapkannya,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait