Surabaya, (DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bekerja sama dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Surabaya. Mereka melakukan uji sampling melalui program Pembinaan Gerakan Pangan Aman Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) “Jatim Truly”. Kegiatan ini berlangsung di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Karang Asem Tambaksari, Rabu (25/9/2024). Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran pedagang tentang keamanan pangan.
Sekretaris Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Surabaya, M. Awaludin Arief, menjelaskan kegiatan ini adalah hasil inovasi BPOM Surabaya, yang berkolaborasi dengan Pemkot Surabaya. Inovasi tersebut mencakup pendampingan dan edukasi untuk para pedagang. Selain itu, di lakukan juga uji sampling terhadap bahan makanan yang di jual.
“Kegiatan ini memberi edukasi kepada pedagang. Mereka bisa mengetahui apakah makanan yang di jual mengandung zat berbahaya seperti boraks, formalin, pewarna Rhodamin B, dan Metanil Yellow,” kata Awaludin.
Ia menambahkan, Pemkot Surabaya mendukung penuh langkah cepat BPOM untuk menjaga keamanan pangan. Terutama di kawasan SWK di Surabaya. Saat ini, Surabaya memiliki 50 SWK dan 1 Sentra Ikan Bulak (SIB). Total pedagang yang terlibat mencapai 1.203 orang. Harapannya, kegiatan ini akan dilakukan secara bertahap.
“Setelah mengikuti program ini, pedagang akan mendapat stiker. Ini sebagai tanda bahwa makanan yang di jual sudah di uji dan bebas dari bahan berbahaya. Ini juga menjadi upaya perlindungan konsumen,” tambahnya.
Plt. Kepala Balai Besar POM Surabaya, Budi Sulistyowati, juga memberikan pernyataan. Menurutnya, program ini bagian dari Program Prioritas Nasional Keamanan Pangan Terpadu. Surabaya menjadi salah satu kota yang menjadi fokus intervensi program tersebut.
“Inovasi Jatim Truly bertujuan membina pedagang agar menjual produk pangan yang aman dari bahan berbahaya. Program ini juga di sinergikan dengan pedagang binaan dari Dinkopumdag dan program Laik Sehat dari Dinas Kesehatan Surabaya,” jelas Budi.
Pemberian Stiker
Para pedagang yang sudah mengikuti bimbingan teknis, dan memastikan produk mereka bebas dari zat berbahaya, akan di berikan stiker. Stiker tersebut bertuliskan “Telah Mengikuti Pembinaan Gerakan Pangan Aman PKL” dan akan di tempel di tempat usaha.
“Program ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap para pedagang di SWK. Ternyata banyak pedagang yang antusias untuk mendapatkan sertifikasi. Melalui kegiatan ini, kami dapat melacak apakah masih ada bahan berbahaya yang di gunakan dalam produk pangan,” lanjutnya.
Jika ditemukan bahan berbahaya dalam uji sampling, BPOM akan menelusuri penjual hingga ke produsen. Setelah di lakukan pembinaan dan di nyatakan bebas dari bahan berbahaya, pedagang akan mendapat stiker sebagai bukti pendampingan BPOM.
“Tujuan kami adalah memberikan jaminan perlindungan dan keamanan bagi konsumen. Saat ini, empat SWK sudah mendapat stiker. Kami akan terus menjalankan program ini secara bertahap,” ungkap Budi.
BPOM Surabaya berencana memperluas cakupan program ini di Kota Pahlawan. Hal ini di dukung penuh oleh Pemkot Surabaya yang sangat peduli dengan keamanan pangan. Ke depannya, pengetahuan pedagang di harapkan meningkat. Selain itu, jaminan keamanan pangan bagi konsumen bisa lebih baik.
“Kami berharap pemerintah daerah lainnya juga bisa mereplikasi program ini. BPOM Surabaya siap membantu agar cakupannya semakin luas,” pungkasnya. (r6)





