Gresik,(DOC) – Ribuan ikan ditemukan mati mengambang di aliran Kali Surabaya, tepatnya di Desa Wringinanom, Gresik, sejak Senin(19/5/2025) pagi. Peristiwa ini menambah panjang catatan pencemaran di kawasan hilir Sungai Brantas yang menjadi sumber air baku utama bagi jutaan warga Surabaya.
Tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) langsung turun ke lokasi untuk mengukur kualitas air dan menelusuri penyebab kematian ikan. Hasil awal menunjukkan kadar oksigen terlarut (DO) hanya 0,1 mg/L. Nilai ini jauh di bawah standar baku mutu air sungai kelas 2 yang di tetapkan pemerintah, yakni minimal 4 mg/L.
Sebagian besar ribuan ikan yang mati di Kali Surabaya, terdiri dari jenis lokal seperti rengkik, keting, bader putih, dan bader merah. Spesies ini dikenal sebagai indikator kesehatan sungai. Kematian massal mereka menunjukkan bahwa Kali Surabaya sudah tidak mampu menopang kehidupan biota air akibat pencemaran berat.
Peneliti ECOTON, Alaika Rahmatullah, menyebut kejadian ini sebagai sinyal darurat. “Kematian ikan bukan sekadar isu lingkungan, tetapi krisis kesehatan dan sumber daya air bagi masyarakat,” tegasnya.
ECOTON menyoroti lemahnya pengawasan dan buruknya tata kelola sungai. Banyak industri masih membuang limbah cair tanpa pengolahan memadai. Masyarakat juga tidak mendapat akses real-time terhadap data kualitas air. Selain itu, koordinasi antar instansi seperti DLH, BBWS, dan pemerintah daerah masih tumpang tindih. Minimnya pelibatan komunitas lokal dalam pengawasan ikut memperparah kondisi.
Mahasiswa Universitas Brawijaya, Manuel Sidabutar, menambahkan bahwa musim kemarau memperburuk situasi. “Debit air menurun, sementara limbah industri tetap mengalir ke sungai tanpa kontrol,” ujarnya.
ECOTON menuntut investigasi menyeluruh, penegakan hukum tegas, dan moratorium izin pembuangan limbah ke Kali Surabaya. Mereka juga mendesak penguatan sistem pemantauan berbasis komunitas dan transparansi data kualitas air secara berkala.
Jika tidak ada tindakan serius, krisis seperti ini akan terus berulang dan mengancam keberlanjutan hidup jutaan orang yang menggantungkan diri pada sungai.(r7)





