
Kairo,(DOC) – Kecintaan pada syair sejak kecil mengantarkan Muhammad Arsyil Azhim, mahasiswa asal Lombok, ke panggung sastra internasional. Lewat karya orisinalnya, Arsyil meraih Piagam Putra Mahkota Fujairah, Uni Emirat Arab, pada ajang Festival Syair Internasional yang di gelar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Rabu (21/5).
Festival ini di adakan bekerja sama dengan Balai Syair Arab Provinsi Fujairah, dan di hadiri langsung oleh Pangeran Mohammed bin Hammad El-Syarqi, putra mahkota Fujairah, serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Abdul Muta’ali, yang hadir sebagai tamu kehormatan.
Arsyil tampil bersama tiga finalis lain dari Nigeria dan Palestina. Dalam babak final, Arsyil membawakan dua syair berbahasa Arab ciptaannya: “Generasi Matahari dari Negeri Aqso” dan “Teguhlah Wahai Dua Sahabatku!”.
Dalam wawancara usai acara, Arsyil mengungkap bahwa syair bukan hal baru baginya. Kegemarannya merangkai kata di mulai sejak duduk di bangku sekolah dasar.
“Saya terbiasa menulis puisi dan syair sejak kecil. Sampai SMA pun saya tetap tekun mengasah kemampuan ini,” ujarnya.
Arsyil saat ini merupakan mahasiswa semester 4 di Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar, dan kerap mempelajari karya para maestro sastra Indonesia, mulai dari Chairil Anwar, WS Rendra, Taufik Ismail, hingga Raja Ali Haji.
Atdikbud KBRI Kairo, Abdul Muta’ali, menyebut keberhasilan Arsyil sebagai bukti pentingnya literasi sastra dalam pembentukan karakter dan peradaban bangsa.
“Syair membentuk jiwa dan mencerminkan budaya bangsa. Literasi sastra seperti ini perlu di tanamkan sejak pendidikan dasar,” tegasnya.
Festival Syair Internasional ini menjadi bukti bahwa sastra, terutama syair, masih relevan dan mampu menjembatani budaya lintas negara. Kehadiran peserta dari Indonesia, Nigeria, dan Palestina memperlihatkan bagaimana bahasa dan puisi dapat mempererat hubungan antarbangsa. (r6)





