Mendikdasmen Dorong Santri Menulis Tak Sekadar “Pasar”, Tapi Bermisi

Mendikdasmen Dorong Santri Menulis Tak Sekadar “Pasar”, Tapi Bermisi
Mendikdasmen Dorong Santri Menulis Tak Sekadar “Pasar”, Tapi Bermisi

Semarang,(DOC) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memberikan dukungan penuh terhadap Gerakan Santri Menulis 2025–Pelatihan Dai Medsos yang diselenggarakan oleh Suara Merdeka Network. Acara ini di gelar di Ballroom Masjid Baiturrahman, Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (21/3).

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti mengapresiasi konsistensi Suara Merdeka yang telah menjalankan gerakan ini selama lebih dari tiga dekade. Ia menyebut kegiatan ini sebagai kontribusi penting dalam membangun kesadaran literasi, khususnya di kalangan santri.

Bacaan Lainnya

“Ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi bagian dari penguatan tradisi berpikir, berdakwah, dan menyampaikan gagasan melalui tulisan,” ujar Mu’ti di hadapan para santri peserta sarasehan.

Mu’ti juga menekankan bahwa gerakan ini sejalan dengan prioritas Kemendikdasmen, yakni mendorong budaya literasi dan kemampuan menulis sejak dini. Menurutnya, menulis bukan hanya keterampilan, tapi juga sarana untuk mengasah nalar, menyampaikan pandangan, dan mencatat jejak pemikiran.

“Writing is my life. Menulis adalah aktivitas harian saya. Lewat tulisan, saya bisa berbagi ide dan memberi kontribusi pemikiran yang bisa terus hidup, bahkan setelah saya tiada,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tulisan tidak boleh hanya bersifat pragmatis atau “pasar”, melainkan perlu memuat nilai-nilai, visi, dan misi yang kuat. Dengan demikian, tulisan santri bisa menjadi referensi yang bernilai di masa depan.

Digelar Sejak 1994

Senada dengan Mendikdasmen, Pimpinan Redaksi Suara Merdeka, Agus Toto Widyatmoko, menjelaskan bahwa Gerakan Santri Menulis telah digelar sejak 1994. Selama itu, ribuan santri telah mengikuti pelatihan dan banyak di antaranya yang kini aktif sebagai penulis—baik di media cetak, daring, maupun platform sosial media.

“Kami ingin membekali para santri tidak hanya dengan semangat menulis, tapi juga dengan pemahaman jurnalistik yang baik, agar apa yang mereka sampaikan ke publik dapat di pertanggungjawabkan secara etis dan informatif,” jelas Agus.

Baca Juga:  Pemerintah Tegaskan Pengawasan Bahasa Indonesia di Ruang Publik Lewat Permendikdasmen 2/2025

Ia menambahkan bahwa karya tulis yang berkualitas lahir dari proses literasi yang kuat, bukan sekadar kecepatan menyampaikan informasi. Karena itu, pelatihan ini menjadi bagian dari ikhtiar Suara Merdeka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalan literasi.

Pemerintah daerah pun menunjukkan dukungannya. Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menyampaikan terima kasih kepada Suara Merdeka atas kontribusinya terhadap pengembangan kapasitas santri di wilayahnya.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya bermanfaat secara personal bagi para santri, tetapi juga memberi dampak sosial yang luas dalam pembangunan wilayah.

“Santri yang menulis dengan baik dapat menjadi agen perubahan yang menyampaikan informasi dengan cerdas dan membangun. Ini sejalan dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkap Iswar. (r6)

Pos terkait