Surabaya, (DOC) – Lanskap industri jurnalistik masa depan dipastikan berubah total seiring masifnya integrasi Artificial Intelligence (AI). Jurnalis masa depan tidak lagi bisa sekadar mengandalkan kemampuan dasar menulis berita atau wawancara, melainkan wajib bertransformasi menjadi analis data yang fasih menavigasi algoritma dan etika digital.
Masa depan jurnalisme di tengah disrupsi teknologi ini menjadi sorotan utama dalam konferensi internasional CommXperience 2026 yang digelar oleh Program Studi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur. Mengusung tema “SEAnergy: Communication, Culture and Collaboration in Digital South East Asia”, forum ini membedah bagaimana AI menggeser pola kerja media dari tiga perspektif krusial yakni pendidikan, jurnalisme data kemanusiaan, dan struktur industri.
Konferensi ini menghadirkan tiga pakar regional, yakni Dr. Nur Izzati Binti Aziz (Universiti Malaya, Malaysia), Dr. Irfan Wahyudi (Universitas Airlangga, Indonesia), dan Assist. Prof. Dr. Pariya Ahluwalia (Thailand).
Kurikulum Baru Jurnalis: Bukan Cuma Mahir Alat, Tapi Kuat Etika
Dalam sesi pertama, Dr. Nur Izzati Binti Aziz menegaskan bahwa tantangan terbesar dunia pers hari ini bukan lagi soal akses internet, melainkan kesenjangan literasi AI. Di era di mana AI bisa menyusun naskah awal dan mengolah informasi mentah, ruang redaksi justru membutuhkan jurnalis dengan kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi.
“Dunia pendidikan jurnalistik perlu menyiapkan peserta didik agar tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami etika, tanggung jawab, dan dampak sosial dari teknologi tersebut,” ujar Dr. Nur Izzati.
Tanpa pondasi literasi yang kuat, ketergantungan pada AI justru berpotensi membanjiri ruang publik dengan informasi yang bias, keliru, atau tidak akurat. Keterampilan verifikasi (fact-checking) kini menjadi benteng terakhir integritas jurnalistik.
Sementara itu, Dr. Irfan Wahyudi membedah bagaimana AI bisa dioptimalkan untuk memperkuat jurnalisme berbasis data dan jurnalisme layanan publik, berkaca dari studinya terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Bagi dunia jurnalistik, teknologi AI seperti pemrosesan bahasa alami (NLP) dan alat penerjemah otomatis membuka peluang besar untuk menembus batas geografis dan bahasa. Jurnalis kini bisa mengolah data masif mengenai risiko migrasi secara cepat dan melakukan liputan investigasi lintas negara dengan lebih mudah.
Namun, Dr. Irfan memberikan catatan penting bagi masa depan profesi ini. Menurutnya, AI adalah alat bantu bukan pengganti. Akurasi dan tanggung jawab sosial harus tetap berada di atas kecepatan algoritma.
Melihat dari kacamata transformasi industri kreatif di Thailand, Assist. Prof. Dr. Pariya Ahluwalia mengingatkan sisi dua mata pisau AI dalam ekosistem media. Di satu sisi, AI mendongkrak efisiensi produksi lewat otomatisasi visual, analisis audiens, hingga personalisasi konten.
Namun di sisi lain, industri terancam mengalami kejenuhan informasi (information overload) dan kaburnya batas karya jurnalistik otentik.
Dr. Pariya menekankan bahwa di masa depan, model kerja media akan sepenuhnya berbasis kolaboratif antara manusia dan mesin. AI memicu lahirnya standar kompetensi baru di ruang redaksi.
Jurnalis masa depan tidak cukup hanya menguasai teknik menulis berita dan peliputan lapangan. Mereka juga perlu memiliki keterampilan analisis data, pemahaman algoritma, literasi AI, etika digital, serta kemampuan mengelola risiko informasi,” pungkas.





