Krisis Plastik di Ujung Tanduk, Warga Surabaya Bergerak di World Cleanup Day

Krisis Plastik di Ujung Tanduk, Warga Surabaya Bergerak di World Cleanup Day

Surabaya,(DOC) – Peringatan World Cleanup Day (WCD) tahun ini di Surabaya hadir dengan cara yang tak biasa. Tak hanya membersihkan sampah, ratusan relawan dan pegiat lingkungan menyuarakan ancaman serius: polusi plastik yang makin mengancam kesehatan manusia, bahkan sejak dalam kandungan.

Bacaan Lainnya

Aksi ini merupakan kolaborasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, berbagai komunitas lingkungan, dan Ecoton Foundation. Lokasi di pusatkan di pesisir utara Surabaya, dekat Jembatan Suramadu.

Dalam kegiatan tersebut, Ecoton menghadirkan dua instalasi seni berskala besar: Kran Plastik dan Akuarium Bayi.

Kran setinggi tujuh meter menjadi simbol ajakan untuk menghentikan produksi plastik sekali pakai—akar dari krisis sampah saat ini. Di sisi lain, Akuarium Bayi memvisualkan temuan riset terbaru: mikroplastik telah di temukan dalam plasenta, air ketuban, air susu ibu, hingga air seni ibu hamil.

“Ini peringatan serius. Generasi mendatang sedang kita warisi mikroplastik sejak dalam kandungan,” ujar Kurnia Rahmawati, Koordinator Kampanye Ecoton.

Tak berhenti pada pameran visual, ratusan relawan juga melakukan aksi bersih-bersih di sepanjang garis pantai.

Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 2,6 ton sampah. Jenis yang paling mendominasi adalah sampah plastik sekali pakai, residu popok, kemasan saset, dan styrofoam.

Yang mengejutkan, di temukan 1.050 sedotan plastik berserakan di area pantai.

“Ini bukti nyata betapa masifnya konsumsi plastik sekali pakai di masyarakat,” tambah Kurnia.

Dampak Mikroplastik pada Tubuh Manusia

Amirudin Muttaqin, Koordinator Pengendalian Sampah Plastik Ecoton, mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 15 gram mikroplastik per bulan. Angka ini setara dengan satu kartu ATM, dan tergolong tertinggi di dunia.

Mikroplastik tersebut masuk melalui makanan dan minuman yang di bungkus plastik, seperti air kemasan, makanan instan, serta penggunaan styrofoam dan popok sekali pakai. Jenis plastik paling dominan dalam tubuh adalah PET (polyethylene terephthalate), bahan utama botol plastik dan styrofoam.

Baca Juga:  Hindari Anarkis, River Warrior Ajak Mahasiswa Surabaya Gelar Aksi 'MAGER' di Mangrove Wonorejo

Masalah ini bukan sekadar soal lingkungan. Penelitian FK Universitas Indonesia pada Maret 2025 menemukan bahwa mikroplastik menyebabkan inflamasi pada otak, yang berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif hingga 36%.

Risiko lainnya termasuk:

– Gangguan hormon dan pertumbuhan

– Menstruasi dan menopause dini

– Hipertensi akibat penyumbatan pembuluh darah

– Infeksi saluran pernapasan dan paru-paru

– Peningkatan risiko kanker

– Penurunan kualitas sperma dan kesuburan

– Gangguan tumbuh kembang bayi

Seruan untuk Hentikan Produksi Plastik Sekali Pakai

Menurut Alaika Rahmatullah, Koordinator Brand Audit Ecoton, solusi tidak cukup hanya dengan bersih-bersih pantai. Masalah harus di hentikan dari hulu.

“Setiap sedotan yang kita buang bisa berakhir di laut dan di makan ikan. Saat kita makan ikan, kita menelan plastik yang kita buang sendiri,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa “menutup kran” produksi plastik sekali pakai adalah langkah paling penting saat ini.

Ecoton mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang telah menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) untuk membatasi penggunaan kantong kresek dan popok sekali pakai.

Namun, mereka menilai itu belum cukup. Di perlukan kebijakan yang lebih tegas untuk mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan, makanan sasetan, dan penggunaan styrofoam, yang menjadi sumber utama mikroplastik di tubuh manusia.

Gerakan Simbolik yang Menguatkan Pesan

Di tengah aksi bersih-bersih, para peserta juga membawa poster dengan pesan kuat seperti:

“Wes Wayahe Prei Nggawa Tas Kresek”

“Tutup Kran Produksi Plastik”

“Indonesia Darurat Mikroplastik”. (r6)

Pos terkait