Ecoton Peringatkan Warga Surabaya Pasca Temuan Mikroplastik dalam Darah

Ecoton Peringatkan Warga Surabaya Pasca Temuan Mikroplastik dalam Darah

Surabaya,(DOC) – Temuan 23 bahan kimia berbahaya terkait plastik dalam darah pekerja pemilah sampah di Gresik membuat Ecoton kembali menyerukan pengurangan plastik sekali pakai. Seruan ini di sampaikan dalam aksi keprihatinan yang di gelar bersama mahasiswa Unesa dan Unair di perempatan Jalan Mulyorejo, Surabaya.

Bacaan Lainnya

Alaika Rahmatullah, Koordinator Kampanye Mikroplastik Ecoton, menyebut temuan tersebut sebagai peringatan awal yang tidak boleh di abaikan. Ia menjelaskan bahwa setengah dari polimer mikroplastik yang terdeteksi dalam darah adalah PET dan ftalat, dua komponen utama botol air minum dalam kemasan.

“Temuan ini harus menjadi pelajaran. Jika ingin terhindar dari bahaya mikroplastik, kita perlu mulai mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan plastik,” ujarnya.

Untuk memperkuat pesan itu, sekitar 20 aktivis dari Ecoton, Growgreen, River Warrior, dan mahasiswa Unair Kampus C ikut serta. Mereka membentangkan poster ajakan mengurangi plastik sekali pakai. Mahasiswa juga berorasi, mengingatkan bahwa tas kresek, styrofoam, dan botol plastik terus mencemari sungai serta laut.

Menurut Anjar, mahasiswa Komunikasi Unesa, penggunaan plastik sekali pakai harus segera di hentikan.

“Botol plastik menjadi salah satu sumber mikroplastik yang kembali masuk ke tubuh manusia,” katanya.

Temuan 23 Bahan Kimia Plastik Berbahaya

Studi biomonitoring di lakukan oleh Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH) Korea Selatan bersama Ecoton dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penelitian ini melibatkan 32 perempuan pemilah sampah di Gresik, terdiri dari 27 pekerja dan 5 orang nonpekerja sebagai kontrol.

Dari analisis terhadap 65 jenis bahan kimia dalam sampel darah dan urin, 23 di antaranya terdeteksi pada seluruh peserta. Kadar pada kelompok pekerja tercatat jauh lebih tinggi. Senyawa seperti ftalat, BPA, PAH, dan flame retardants di ketahui memicu gangguan hormon, menurunkan kesuburan, melemahkan sistem pernapasan, dan meningkatkan risiko kanker.

Baca Juga:  AKAMSI Desak Gubernur Usut Krisis Ekologis Kali Surabaya

Dr. Won Kim dari WIOEH menyampaikan bahwa paparan pada pekerja terjadi pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ia menilai temuan tersebut harus menjadi dasar perlindungan kesehatan pekerja dan perbaikan sistem pengelolaan sampah.

Pandangan serupa di sampaikan Dr. Daru Setyorini dari Ecoton. Ia menegaskan bahwa tingginya paparan bahan kimia ini menunjukkan lemahnya tata kelola sampah. Menurutnya, masih banyak sampah plastik yang tidak terkelola dan akhirnya mencemari sungai serta ruang terbuka.

“Ini alarm keras bagi pemerintah. Pengurangan plastik sekali pakai dan perlindungan bagi pekerja sektor informal perlu segera di lakukan,” tegasnya. (r6)

Pos terkait