Surabaya,(DOC) – Pemerintah terus mempercepat agenda hilirisasi sektor perkebunan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satu prioritas utama adalah komoditas gula, dengan target swasembada gula nasional secara penuh pada 2029. Dalam peta besar tersebut, Jawa Timur di posisikan sebagai tulang punggung utama produksi gula nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Percepatan Hilirisasi Perkebunan dan Penguatan Ketahanan Pangan Nasional yang di gelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (23/12/2025). Rapat ini di hadiri jajaran kementerian, pemerintah daerah, BUMN perkebunan, hingga unsur TNI dan Polri.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, menegaskan bahwa target swasembada gula tidak dapat di capai secara instan. Pemerintah menempuh langkah bertahap dan terukur, mulai dari perluasan lahan hingga peningkatan produktivitas tebu.
“Target kita jelas, swasembada gula total pada 2029. Prosesnya bertahap, step by step, melalui perluasan lahan dan percepatan penanaman tebu,” ujar Abdul Roni.
Ia menjelaskan, Jawa Timur memiliki posisi strategis karena menjadi pusat industri gula nasional. Sekitar 70 persen pabrik gula di Indonesia berada di provinsi ini. Selain itu, karakteristik tanaman tebu yang harus dekat dengan pabrik pengolahan menjadikan Jawa Timur sebagai wilayah kunci yang sulit tergantikan.
“Sekitar 70 persen lahan tebu nasional ada di Jawa Timur. Tebu tidak bisa jauh dari pabrik gula, sehingga Jawa Timur menjadi basis utama industri gula nasional,” jelasnya.
Abdul Roni menambahkan, kehadiran berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Menteri Pertanian, Gubernur Jawa Timur, Wakil Gubernur, Kapolda, Pangdam, para bupati, hingga pimpinan BUMN perkebunan, menjadi dorongan kuat untuk mempercepat realisasi program, terutama menjelang tahun anggaran 2025.
“Tahun anggaran memang hampir berakhir, tetapi kita sepakat tidak boleh kendor. Ini pengabdian untuk masyarakat dan Merah Putih. Harapannya, ke depan kita tidak lagi bermasalah dengan ketersediaan gula,” tegasnya.
Perluasan Lahan
Pemerintah menargetkan perluasan lahan tebu hingga 100 ribu hektare per tahun. Dengan strategi tersebut, kebutuhan produksi gula nasional sebesar 8,1 juta ton pada 2029 di harapkan dapat terpenuhi. Saat ini, konsumsi gula kristal putih nasional berada di kisaran 2,8 juta ton per tahun, dengan stok yang di nilai masih aman.
“Stok akhir tahun ini di perkirakan masih sekitar 1,2 hingga 1,3 juta ton. Ini menjadi cadangan strategis untuk 2025 dan tahun-tahun berikutnya,” imbuh Abdul Roni.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, menegaskan bahwa peningkatan produksi tebu harus di barengi dengan penguatan kapasitas dan modernisasi pabrik gula. Saat ini, tingkat utilisasi pabrik gula rata-rata masih berada di kisaran 70 persen.
“Perluasan lahan harus di ikuti investasi pabrik gula. Dengan tambahan sekitar 70 ribu hektare di Jawa Timur, potensi tebu sangat besar dan harus dapat terserap oleh 24 pabrik gula yang kami kelola,” ujar Mahmudi.
SGN menyiapkan investasi sekitar Rp800 miliar untuk modernisasi dan optimalisasi pabrik gula, sekaligus meningkatkan efisiensi pengolahan tebu. Selain itu, pengembangan varietas tebu unggul juga terus di lakukan untuk mendongkrak produktivitas.
“Perbaikan varietas baru berjalan satu tahun. Tahun depan masuk tahun kedua, dan dalam empat tahun ke depan kami optimistis produksi nasional bisa mencapai 8,5 juta ton,” katanya.
Mahmudi menekankan bahwa modernisasi pabrik tidak hanya menyangkut mesin, tetapi memastikan seluruh potensi tebu di lapangan dapat diolah secara optimal dan efisien.
“Fungsi pabrik adalah mengoptimalkan potensi tebu. Investasi ini kami lakukan agar pabrik gula dapat bekerja maksimal dan mendukung target swasembada gula nasional,” pungkasnya.
Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan BUMN perkebunan, Jawa Timur di harapkan menjadi lokomotif utama dalam mewujudkan kemandirian gula nasional serta memperkuat ketahanan pangan Indonesia menuju 2029. (r6)





