Surabaya,(DOC) – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong pemerintah segera menyusun roadmap pembangunan fasilitas Floating Storage Regasification Unit (FSRU) untuk memperkuat keandalan pasokan gas bumi di Jawa Timur.
Langkah ini di pandang strategis untuk menjawab kebutuhan gas yang terus meningkat, mulai dari sektor industri, kelistrikan, hingga rumah tangga.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menyebut FSRU maupun fasilitas regasifikasi lainnya dapat menjadi penopang pasokan gas berbasis LNG yang terhubung dengan jaringan pipa yang sudah ada. Menurutnya, karakter LNG yang lebih fleksibel bisa memberi “ruang napas” tambahan saat pasokan dari sumber tertentu terganggu atau ketika permintaan melonjak.
“FSRU berperan sebagai sumber pasokan tambahan yang fleksibel untuk meningkatkan keandalan penyaluran gas, khususnya di wilayah dengan kebutuhan besar seperti Jawa Timur,” ujar Wahyudi saat kunjungan kerja di Surabaya.
Kunjungan tersebut juga membahas strategi penguatan sistem pasokan gas regional. Dalam agenda itu, BPH Migas turut memantau penyaluran gas oleh PGN setelah adanya planned shutdown dari pemasok untuk keperluan pemeliharaan (maintenance).
Kondisi seperti ini, kata Wahyudi, menunjukkan pentingnya sistem pasokan yang tidak bertumpu pada satu sumber saja.
Berdasarkan paparan yang di sampaikan, kebutuhan gas bumi di Jawa Timur yang di salurkan melalui jaringan transmisi tercatat tinggi.
Rata-rata penyerapan gas di wilayah ini mencapai sekitar 413,88 BBTUD, angka yang menggambarkan peran gas bumi sebagai tulang punggung energi sekaligus penopang aktivitas ekonomi daerah.
Penguatan Sistem
Dengan tren permintaan yang besar dan cenderung meningkat, Wahyudi menilai penguatan sistem harus di lakukan melalui di versifikasi sumber pasokan. Dalam skema itu, LNG yang disalurkan lewat FSRU dapat berfungsi sebagai buffer untuk menjaga kontinuitas penyaluran gas kepada pelanggan, terutama ketika terjadi gangguan pasokan, perawatan terjadwal, atau fluktuasi permintaan.
Selain aspek keandalan, BPH Migas juga menilai pengembangan infrastruktur FSRU sejalan dengan agenda pemerataan energi dan transisi energi nasional. Integrasi antara jaringan pipa dan pasokan LNG di harapkan menciptakan distribusi gas yang lebih merata, lebih adaptif, dan lebih tahan terhadap gangguan.
Pada akhirnya, pasokan yang stabil di nilai akan berdampak langsung pada daya saing industri di Jawa Timur. Dengan kepastian energi, pelaku usaha dapat merencanakan produksi lebih akurat, sementara daerah berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih konsisten dan berkelanjutan.
Wahyudi menegaskan, percepatan pembangunan infrastruktur tidak bisa berjalan sendiri. Ia mendorong sinergi lintas pemangku kepentingan agar roadmap FSRU dapat segera disusun, di eksekusi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat serta dunia usaha.
“Ke depan, sinergi seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan agar pembangunan infrastruktur gas dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat maksimal,” pungkasnya. (r6)





