Surabaya,(DOC) – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah Surabaya. Kebijakan itu memunculkan pengalaman yang berbeda di kalangan siswa. Sebagian anak mengaku tidak terlalu terpengaruh. Sebaliknya, sebagian lainnya merasa kehilangan karena program tersebut membantu memenuhi kebutuhan makan sekaligus menghemat uang saku.
Tak Pernah Makan MBG karena Nasi Keras
Muhammad Fairuzani, siswa kelas I SD di Surabaya Barat, menjadi salah satu siswa yang tidak merasa kehilangan saat MBG berhenti sementara. Selama program berlangsung, bocah berusia enam tahun itu mengaku jarang memakan menu MBG yang sekolah berikan.
“Enggak apa-apa MBG nggak ada lagi. Aku juga nggak pernah makan,” ujar Fairuzani saat ditemui, Kamis (18/6/2026).
Dengan polos, Fairuzani menjelaskan alasannya. Menurut dia, nasi dalam menu MBG sering terasa keras, sedangkan lauk yang tersedia cenderung sama setiap hari.
“Nasinya keras. Lauknya sering telur terus. Nggak ada sayurnya. Aku lebih suka masakan bapak di rumah,” katanya.
Fairuzani juga membandingkan menu di sekolahnya dengan cerita teman-temannya dari sekolah lain yang mendapatkan makanan lebih beragam.
“Teman-teman ada yang dapat roti juga,” tuturnya.
MBG Bantu Siswa Menabung
Berbeda dengan Fairuzani, penghentian sementara MBG justru membuat Rachmad Budi Ari Wicaksono merasa kehilangan. Siswa kelas XI SMK di Surabaya itu mengaku program tersebut sangat membantu mengurangi pengeluaran selama sekolah.
“Sejauh ini enak-enak saja. Menunya macam-macam, ada nasi, ayam, tempe, sama buah,” kata Rachmad.
Rachmad mengatakan petugas menyediakan buah yang cukup beragam, mulai dari semangka, melon, buah naga hingga leci. Petugas juga rutin membagikan makanan sekitar pukul 09.00 WIB.
Menurut Rachmad, manfaat MBG tidak hanya sebatas menyediakan makanan gratis. Program itu membuatnya bisa menyisihkan sebagian uang saku yang sebelumnya habis untuk membeli makan siang dan minuman.
“Kalau nggak ada MBG, saya jadi susah nabung. Biasanya uang saku dipakai makan di kantin,” ujarnya.
Dalam sepekan, Rachmad menerima uang saku sekitar Rp200 ribu. Sebelum pemerintah menjalankan program MBG, ia menghabiskan sebagian besar uang tersebut untuk makan dan minum selama berada di sekolah.
“Kalau makan di sekolah bisa habis Rp7 ribu sampai Rp10 ribu per hari, belum beli minum dan bensin motor. Sejak ada MBG, uang yang bisa ditabung jadi lebih banyak,” tuturnya.
Jadi Bahan Evaluasi Program
Cerita Fairuzani dan Rachmad menunjukkan bahwa setiap siswa merasakan manfaat MBG dengan cara yang berbeda. Sebagian siswa menyoroti kualitas dan variasi menu. Sementara siswa lainnya merasakan manfaat ekonomi karena tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk makan selama sekolah.
Perbedaan pengalaman tersebut menjadi catatan penting bagi penyelenggara program. Selain menjaga kualitas makanan, pemerintah juga perlu memastikan standar pelayanan yang sama di setiap sekolah agar seluruh siswa dapat menikmati manfaat MBG secara optimal.(ode/r7)





