Antisipasi El Nino, Pemerintah Salurkan Beras SPHP Hingga 82 Persen

Antisipasi El Nino, Pemerintah Salurkan Beras SPHP Hingga 82 Persen
Pemerintah percepat penyaluran beras SPHP. (Foto: Ist)

Jakarta, (DOC) – Pemerintah memacu penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara masif hingga melonjak 274 persen dibandingkan tahun lalu. Langkah terobosan ini menjadi strategi utama untuk mengamankan stok pangan dan menahan lonjakan harga di tengah ancaman kekeringan akibat El Nino yang mulai melanda sejumlah wilayah Indonesia.

Hingga pekan kedua Juli 2026, realisasi distribusi beras SPHP telah menembus 678,87 ribu ton atau sekitar 82 persen dari target tahunan 828 ribu ton. Capaian ini melesat drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencatatkan angka 181,17 ribu ton.

Bacaan Lainnya

Direktur SPHP Badan Pangan Nasional (Bapanas), Maino Dwi Hartono, menegaskan bahwa melesatnya realisasi ini didukung oleh posisi Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) yang berada dalam kondisi sangat aman.

“Ketersediaan pangan kita cukup banyak. Stok kita lebih dari 5 juta ton, sehingga sangat aman. Tantangannya saat ini adalah bagaimana mendistribusikan beras pemerintah tersebut secara efektif kepada masyarakat,” ujar Maino, Selasa (21/7/2026).

Untuk mempercepat jangkauan, Bapanas memperluas jalur distribusi SPHP melalui pasar-pasar rakyat hingga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM), khususnya di daerah-daerah yang mulai merasakan tekanan kenaikan harga beras. Tak hanya itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras secara gratis kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat sepanjang periode Juli hingga September 2026.

Percepatan distribusi beras murah ini terbukti ampuh meredam gejolak harga di pasaran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pangan tahunan berhasil ditekan turun dari 6,24 persen pada Mei 2026 menjadi 5,58 persen pada Juni 2026.

Intervensi pasar dari sisi pasokan pangan ini menjadi krusial lantaran opsi teknologi belum bisa bergantung sepenuhnya pada kondisi alam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sejumlah daerah di Jawa, Bali, NTB, dan NTT telah mengalami hari tanpa hujan selama 30 hingga 60 hari.

Baca Juga:  Gempa 6,2 M Tak Berpotensi Tsunami Guncang Kabupaten Blitar

Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari, menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak dapat dilakukan secara maksimal saat musim kering ekstrem karena ketiadaan awan hujan yang bisa disemai. “Prinsip utamanya adalah OMC tidak dapat menciptakan hujan dari langit yang cerah,” kata Supari.

Sebab itu, percepatan penggelontoran cadangan beras SPHP hingga ratusan ribu ton ini menjadi tumpuan utama pemerintah untuk melindungi daya beli masyarakat sekaligus memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga sepanjang musim kemarau.

Pos terkait