Kebakaran Hutan TNBTS Ancam Satwa Liar, Teledu Mati hingga Jejak Macan Tutul Ditemukan

Kebakaran Hutan TNBTS Ancam Satwa Liar, Teledu Mati hingga Jejak Macan Tutul Ditemukan
Kebakaran TNTBS membahayakan satwa liar. (Foto: Ist)

Lumajang, (DOC)Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di lereng Gunung Semeru, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), mulai berdampak serius terhadap kelangsungan hidup satwa liar di wilayah tersebut.

Petugas Balai Besar TNBTS menemukan dua ekor satwa liar di kawasan terdampak api, tepatnya di sekitar Pos 2 dan area Ranu Kumbolo, Kabupaten Lumajang.

Bacaan Lainnya

Kepala Bagian Tata Usaha BB-TNBTS, Bambang Suriyono, mengonfirmasi temuan bangkai satwa jenis teledu (luwak tanah) dan kerangka kijang di lokasi kejadian.

“Di lokasi terdampak ditemukan satu ekor teledu dalam kondisi mati. Kami juga menemukan tengkorak satwa kijang, namun belum bisa dipastikan apakah kematiannya akibat kebakaran atau sudah lama mati sebelum terjadi karhutla,” kata Bambang di Lumajang, Rabu (2/9/2026).

Selain temuan satwa mati, kebakaran ini memicu pergeseran habitat satwa liar di kawasan TNBTS. Petugas mendapati jejak keberadaan macan tutul di zona terdampak. Bambang menduga satwa pemangsa tersebut berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api.

“Ada jejak macan tutul yang kemungkinan besar masih hidup dan telah bermigrasi ke titik lain yang lebih aman dari jangkauan api,” ujar Bambang.

Kebakaran yang bermula sejak Rabu (26/8/2026) di Blok Gunung Kembang, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Lumajang ini terus meluas ke sejumlah titik jalur pendakian Gunung Semeru.

Pos 1, Pos 2, Watu Rejeng, Sentong, Gunung Kepolo, Blok Ayak-Ayak, Kalimati, Gunung Kolong, pertigaan Trisula, hingga merembet ke kawasan Ngadas, Kabupaten Malang. Api meluas menyebabkan sekitar 600 hektare lahan hutan hangus terbakar, angka ini diperkirakan masih bisa bertambah mengingat api belum sepenuhnya padam.

Baca Juga:  Bupati Lumajang Tinjau Banjir Sukodono, Siapkan Normalisasi Sungai dan Bronjong

Pos terkait