
Sidoarjo, (DOC) – Menjelang perhelatan Konferensi Cabang (Konfercab) XXII Nahdlatul Ulama (NU) Sidoarjo, dinamika kontestasi kepemimpinan mulai menghangat.
Namun, di tengah riuk-pikuk bursa calon, langkah dr. Hidayatullah, Sp.N. justru menghadirkan kesejukan tersendiri lewat laku kultural yang sarat nilai spiritual: sowan dan bersilaturahmi takzim kepada para kiai, masayik, serta sesepuh NU.
Bagi sosok yang dikenal luas sebagai dokter spesialis neurologi sekaligus Rektor Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA) ini, mengetuk pintu kediaman para kiai bukan sekadar safari politik demi meraup dukungan suara.
Dalam tradisi pesantren, sowan adalah cermin kerendahan hati seorang santri untuk mendengarkan nasihat, menyerap kegelisahan warga nahdliyin, dan merawat ikatan batin (rabithah) yang telah terbangun lama.
Makna mendalam silaturahmi tersebut mendapat sorotan dari Ketua PAC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Taman, Dr. Syarif Hidayatullah, S.Pdi., M.Pdi.
Menurutnya, langkah rektor UMAHA tersebut sangat relevan dan menegaskan kembali esensi berorganisasi di lingkungan NU.
“Di sinilah letak kedalaman silaturahmi. Seseorang tetap memperoleh pelajaran berharga, bahkan ketika tidak membawa pulang janji atau kepastian politik. Kepemimpinan di NU bukan semata tentang siapa yang meraih amanah jabatan, melainkan bagaimana amanah itu dijalankan kelak. Persatuan, kaderisasi, pelayanan umat, serta kemampuan merangkul perbedaan adalah tugas peradaban yang tidak selesai hanya dengan terpilihnya seorang ketua,” ungkap Syarif Hidayatullah, Selasa (3/11/2026).
Syarif menambahkan bahwa tradisi sowan mengingatkan setiap kader bahwa dalam jam’iyah NU, kebiasaan mendengarkan jauh lebih tinggi nilainya daripada sekadar mengumbar janji.
Meski silaturahmi menjelang Konfercab kerap ditafsirkan secara pragmatis, esensi ukhuwah nahdliyah harus tetap ditempatkan di atas kalkulasi elektoral sesaat.
Di tengah menghangatnya peta pencalonan Konfercab XXII PCNU Sidoarjo, pesan kultural dari gerak silaturahmi dr. Hidayatullah menjadi pengingat yang menyegarkan, jabatan mungkin diputuskan dalam bilik suara, tetapi kepercayaan (tsiqah) kiai dan jamaah hanya bisa tumbuh dari ketulusan, konsistensi, serta rasa hormat yang tak pernah luntur.





