Forum Aktivis NU Jatim Ungkap Kriteria Pemimpin PBNU di Abad Kedua

Forum Aktivis NU Jatim Ungkap Kriteria Pemimpin PBNU di Abad KeduaSurabaya,(DOC) – Forum Komunikasi Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur mengungkap sejumlah kriteria yang harus dimiliki calon pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Ulama Navigator NU di Surabaya, Prof. DT KH Muhibbin Zuhri, MA menegaskan bahwa NU membutuhkan pemimpin yang memiliki tiga karakter utama, yakni alim, abid, dan arif.

Bacaan Lainnya

Muhibbin mengingat kembali pesan KH Ahmad Siddiq dalam Muktamar NU di Situbondo pada 1984. Saat itu, KH Ahmad Siddiq menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan tiga karakter tersebut.

“Saya masih ingat, saat itu Kiai Ahmad Siddiq menyampaikan bahwa NU harus dipimpin sosok yang alim, abid, dan arif,” kata Muhibbin.

Pemimpin NU Harus Berilmu dan Bijaksana

Muhibbin menjelaskan sosok alim harus menguasai ilmu pengetahuan dan keagamaan. Karena itu, NU membutuhkan figur dengan kapasitas keilmuan yang kuat untuk menduduki posisi Rais Aam.

Sementara itu, berbagai kalangan dapat mengemban jabatan Ketua Umum Tanfidziyah selama memiliki kemampuan memimpin dan mengelola organisasi.

Muhibbin juga menilai KH Said Aqil Siradj memiliki kapasitas untuk menjawab tantangan NU pada abad kedua. Menurutnya, mantan Ketua Umum PBNU itu memadukan sifat alim, abid, dan arif.

“Meski sudah tidak menjabat Ketua Umum PBNU, beliau tetap mendapat penerimaan luas dari keluarga besar NU di berbagai daerah,” ujarnya.

Penguatan Peran Ulama dan Khittah NU

Penggagas Forum Komunikasi Aktivis NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman, mengatakan forum itu membahas sejumlah agenda strategis untuk memperkuat NU pada abad kedua.

Menurut Sudarsono, peserta forum mendorong penguatan peran ulama sebagai pusat pengambilan keputusan organisasi.

Forum itu juga mendorong reaktualisasi Khittah NU 1926 guna menjaga independensi organisasi dari kepentingan politik praktis.

“Yang tidak kalah penting adalah tata kelola organisasi yang mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab kebangsaan dan kemandirian jam’iyah,” tegasnya.

Baca Juga:  PBNU Akan Tempuh Jalur Hukum Terkait Penyerangan Pengajian di Karawang

KH Said Aqil Soroti Peran Ulama

KH Said Aqil Siradj hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut. Ia menegaskan bahwa ulama memegang peran penting dalam membangun peradaban, kebudayaan, dan kemanusiaan.

Menurutnya, ulama harus menghadirkan manfaat bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama.

“Ulama harus menghadirkan manfaat bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang agama,” ujarnya.

Akademisi, pengasuh pesantren, dan aktivis NU dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti FGD tersebut. Mereka datang dari Tuban, Lamongan, Gresik, Jember, Probolinggo, Malang, Nganjuk, Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya.(r7)

Pos terkait