
Surabaya,(DOC) – Semburan lumpur yang mengandung gas metan di rumah Jalan Kutisari Indah III/19, Jumat(27/9/2019) siang meningkat lagi. Peningkatan tersebut terjadi pada kadar gas metannya yang mencapai 80 persen.
Gas metan itu menyebar dan menguap hingga mempengaruhi kualitas udara yang cenderung berbahaya.
Petugas Perusahaan Gas Negara (PGN) yang melakukan pengecekan lokasi mencatat bahwa gas metan yang menguap di udara mencapai 20.000 Part Permilion(Ppm).
“Jika terkena percikan api bisa terbakar,” ungkap Arifan Rohandi, salah satu petugas PGN saat dilokasi kejadian.
Para petugas PGN ini mendeteksi kadar minyak mentah dengan menggunakan alat laser minimetan. Untuk mencegah kebakaran disekitar lokasi semburan lumpur, petugas Bakesbang Linmas dibantu pihak kecamatan Tenggilis Mejoyo menampung lumpur kedalam drum-drum minyak.
Semburan lumpur bercampur minyak di wilayah Kutisari memang sudah sering bermunculan. Bahkan dulu ada sekelompok warga yang membuat galian untuk mencarinya dan ditampung untuk dijual.
Seorang warga yang tengah menonton semburan lumpur mengaku bahwa minyak mentah yang keluar bercampur lumpur laku dijual.
“Satu drum harganya bisa mencapai Rp 300 ribuan. Sayang kalau sekarang lumpur-lumpur yang sudah ditampung dalam drum dibuang begitu saja,” kata seorang warga sambil meninggalkan lokasi semburan lumpur.
Sementara itu, HRD PT Classic Prima Karpet, Waskito, membenarkan, jika semburan yang terjadi di Mess PT Classic Prima Karpet kembali membesar.
“Semburan saat ini semakin besar, namun tidak sekental pertama kali keluar. Bahkan tidak ada lumpurnya sama sekali,” jelasnya.
Selain encer, bau gas cair yang keluar juga semakin menyengat, sehingga ditakutkan berbahaya bagi kesehatan.
“Semburan yang keluar ini encer, dan aroma gas yang turut serta keluar dengan cairan juga sangat kuat. Saya takutkan kalau beracun atau kurang baik untuk kesehatan manusia,” tambahnya.
Ia menjelaskan, hingga sekaran minyak mentah yang keluar bersama lumpur sudah sitampung mencapai 45 drum ukuran besar.
“Hari ini ada sekitar 45 drum, tadi sudah dibawa sekitar 24 drum. Denger-denger dibawa sama PT Surabaya Abadi Jaya. Cuma enggak tahu buat apa,” katanya..
Terpisah, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Aditya Wasita, menyatakan bahwa semburan tersebut nantinya akan berhenti sendiri. Dirinya memperkirakan semburan gas akan berhenti minimal sekitar 7 hari.
“Paling enggak 7 hari, atau paling lama sebulan berhenti. Lihat kondisi dan keadaan semburan,” katanya.
Seperti diketahui bahwa semburan lumpur berbau solar terjadi pada Senin(23/9/2019) lalu. Kala itu semburan lumpur beraroma bahan bakar solar yang keluar cukup deras.(robby/hadi)




