Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengevakuasi dua anak dari rumah seorang pria paruh baya berinisial BS, warga Kutisari Selatan. Evakuasi berlangsung Kamis (11/9/2025) sore setelah terungkap dugaan kekerasan yang di alami anak-anak tersebut.
Kedua anak itu, A (4 tahun) dan B (7 tahun), selama ini merawat BS yang lumpuh setelah jatuh di kamar mandi setahun lalu. Selama merawat, mereka tidak bersekolah dan bahkan di duga menjadi korban kekerasan.
“Target utama kami menyelamatkan anak-anak supaya mendapat pengasuhan yang layak, termasuk hak pendidikan mereka,” kata Wawan Windarto, Camat Tenggilis.
Usai di evakuasi, A dan B di tempatkan di panti asuhan di bawah naungan gereja. Di sana mereka bergabung dengan kakak kandungnya, BE (16), yang lebih dulu kabur enam bulan lalu karena tidak tahan mendapat perlakuan kasar dari ayahnya.
Menurut Kepala DP3APPKB Kota Surabaya, Ida Widayati, pemerintah juga menyiapkan akses pendidikan bagi ketiga anak. BE akan melanjutkan sekolah lewat kejar paket. Sedangkan B segera masuk SD terdekat, dan A akan menyusul jika usianya mencukupi.
“Selain sekolah, mereka juga butuh pemulihan trauma. Sebab kondisi sosial yang tertutup dan pengalaman kekerasan jelas meninggalkan luka psikologis,” ujar Ida.
Penyakit Lain
Sementara itu, BS di bawa ke RS Menur untuk pemeriksaan medis. Dokter Puskesmas Tenggilis, Heni Agustina, membenarkan adanya luka pada B akibat di pukul rotan oleh BS beberapa hari sebelumnya. Selain lumpuh, BS juga menderita hipertensi, diabetes, dan gangguan ginjal.
Keterangan warga memperkuat temuan tersebut. Ketua RT setempat, Sunoko, menyebut BS kerap melakukan KDRT hingga membuat istrinya pergi empat tahun lalu, tidak lama setelah kelahiran A. BE pun melarikan diri enam bulan lalu karena alasan serupa.
Ke depan, pemkot akan mengevaluasi kondisi BS sebelum memutuskan apakah ia bisa kembali tinggal bersama anak-anaknya.
“Kita lihat dulu perkembangan fisik dan mental bapaknya,” kata Ida. (r6)





