Survey iPOL Indonesia Tempatkan Eri Cahyadi di Posisi Teratas Dengan Sentimen Pemberitaan Positif

Surabaya,(DOC) – Mendekati pelaksanaan Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Surabaya 2020 mendatang, nama Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Eri Cahyadi memiliki tren peningkatan ekspose hingga menempati posisi teratas dan mendominasi dengan sentimen pemberitaan yang positif.
Hal ini seperti yang dilansir oleh Lembaga iPOL Indonesia (IT-Research and Politic Consultan).
Pada Pilkada serentak di 2020 mendatang, Kota Surabaya tetap memiliki dinamika paling tinggi dibanding 18 kabupaten lainnya.
Petrus Hariyanto, CEO iPOL Indonesia, menyatakan, dari sejumlah nama yang beredar, Kepala Bappeko Surabaya, Eri Cahyadi menunjukkan tren peningkatan ekspose.
Sebelumnya Eri Cahyadi masih menempati posisi kedua setelah Wakil Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana. Kini, Eri di posisi teratas dan mendominasi dengan sentimen pemberitaan yang positif.
“Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini dinilai memiliki rekam jejak karir yang tidak jauh berbeda dengan Walikota Risma. Sehingga, digadang sebagai salah satu kandidat terkuat. Bahkan, Armuji dan Whisnu cenderung ingin menggandeng Eri dalam Pilkada Surabaya agar bisa kembali menangi Pilwali Surabaya. Info dari survei internal partai, sosok Eri Cahyadi sebagai salah satu figur yang potensial,” katanya, Jumat(6/12/2019).
Ekspose Eri Cahyadi saat ini mencapai 2701 dan menyalip Whisnu Sakti Buana (2300). Disusul kemudian oleh Armuji (1002), KH Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans (544), Dyah Katarina (299), keponakan Gubernur Jatim, Lia Istifhama (146), pengacara M Sholeh (134), anggota DPD RI Ahmad Nawardi (123), Ketua DPC Peradi Surabaya Hariyanto (70).
Calon lain yang juga mulai terpantau bergerak adalah mantan Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-KH Ma’ruf Amin Jatim, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin (mantan Kapolda Jatim), keponakan Menkopolhukam Mahfud MD (Firman Syah Ali), Gus Ali Azahra dan Samuel Teguh Santoso.
“Fenomena banyaknya calon walikota yang juga struktur PDI Perjuangan, mengindikasikan bahwa siapapun calon dari PDIP yang bakal dapat rekomendasi akhir nanti, tetap akan menjadikan lawannya akan sulit menang, jika tidak ada strategi dan pola pemenangan yang rapi dan diimbangi dari sekarang,” tegasnya.
Makin massifnya kemunculan Cawali baru di bulan Desember ini, lanjut Petrus, menunjukkan analisis pemenangan berbasis Big Data dan Teknologi Politik (Teknopol) makin dibutuhkan. Ini karena adu strategi dari kandidat baru yang mulai bermunculan tidak bisa dianggap remeh.
“Karena kampanye politik di era digital atau 4.0, saat ini makin mudah dan cepat dalam membangun popularitas, kedisukaan, maupun ketidaksukaan terhadap kandidat. Adu strategi, narasi dan kekuatan manajemen pemenangan kandidat mulai diuji di masa pra rekomendasi partai saat ini. Dibutuhkan kerja terencana, terukur, akurat, terkendali dan terupdate,” tuturnya.(r7)

Pos terkait