Surabaya,(DOC) – Situasi kehidupan berbangsa dan bernegara belakangan ini d iwarnai oleh gelombang aksi unjuk rasa dan demonstrasi. Hampir setiap hari, publik menyuarakan ketidakpuasan terhadap berbagai persoalan di negeri ini. Menurut tokoh masyarakat Achmad Hidayat, kondisi ini tidak bisa di anggap remeh. Jika di biarkan terus berlarut, ia khawatir akan mengganggu stabilitas nasional dan memperlemah kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin.
“Ini berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Di saat yang sama, tensi global juga ikut meningkat. Ketegangan di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada ekonomi, hubungan luar negeri, dan harga minyak dunia. Achmad menilai, kondisi dalam dan luar negeri yang sama-sama tidak stabil membutuhkan respons yang lebih jujur dan berani dari para pemimpin.
Dalam pernyataannya, Achmad menyoroti budaya kepemimpinan yang menurutnya terlalu sering mempertontonkan citra sempurna. Ia menyebut banyak pemimpin yang terjebak menjadi “Yes Man” — sosok yang hanya ingin menyenangkan semua pihak tanpa mempertimbangkan realitas.
“Kita ini di pertontonkan bahwa pemimpin di berbagai tingkatan harus menjadi ‘Yes Man’, bukan ‘Right Man’. Akibatnya muncul pembenaran semu, pembunuhan karakter, dan konflik,” tegasnya.
Achmad menjelaskan bahwa menjadi “Yes Man” berarti berusaha memenuhi semua ekspektasi seolah-olah tanpa cela. Padahal, menurutnya, manusia bukan malaikat. Pemimpin tetap punya keterbatasan: secara emosional, intelektual, maupun dalam kalkulasi kebijakan.
Sebaliknya, ia menawarkan konsep “Right Man”, sosok pemimpin yang sadar akan keterbatasannya, namun tetap berusaha maksimal dan terbuka dalam memperbaiki diri.
Berani Salah, Tanda Ksatria
Achmad juga mengkritik budaya yang hanya menonjolkan pencitraan. Menurutnya, ketika hanya kebaikan yang di perlihatkan ke publik, maka satu kekurangan kecil saja bisa menjadi bumerang.
“Begitu ada kekurangan, langsung jadi bulan-bulanan. Padahal selama ini hanya prestasi yang di tampilkan,” ujarnya.
Ia percaya bahwa masyarakat Indonesia akan lebih menghargai pemimpin yang berani mengakui kesalahan. Sikap ini bukan kelemahan, tapi justru menunjukkan jiwa ksatria.
“Kalau pemimpin mau jujur dan gentle, masyarakat akan lebih bisa menerima dan memberi dukungan moral. Bukan di hujat, tapi di arahkan,” tambahnya.
Sebagai penutup, Achmad mengajak seluruh elemen bangsa untuk memulai gerakan pengakuan kesalahan. Ia mengibaratkan hal ini seperti filosofi Yin dan Yang — bahwa kesalahan tidak boleh menghapus seluruh kebaikan, dan citra baik tidak boleh menutupi kekeliruan besar.
“Jangan sampai karena satu titik hitam semua kebaikan di hakimi. Tapi juga jangan sampai karena tampak bersih, lalu yang gelap di sembunyikan,” katanya tegas.
Gerakan ini, menurut Achmad, bukan hanya untuk pemimpin. Ia berharap pengakuan kesalahan bisa menjadi pemicu kesadaran kolektif, menumbuhkan kasih sayang antarsesama, dan mempererat rasa saling memiliki sebagai bangsa. (r6)





