AI dan Sekolah Masa Depan, CDT Talks Tawarkan Ruang Kolaborasi Inovatif

Jakarta,(DOC) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) kembali menggelar Collaborative Digital Transformation Talks (CDT Talks) #2 dengan tema “AI untuk Sekolah Masa Depan: Meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Sekolah dengan Kecerdasan Buatan”. Acara ini berlangsung secara luring di Graha Tama Pusdatin dan di siarkan langsung melalui kanal YouTube Rumah Pendidikan, dengan 316 peserta yang mengikuti secara hybrid, Senin (26/5).

Bacaan Lainnya

CDT Talks merupakan forum tematik berkala yang mempertemukan pendidik, pemangku kebijakan, praktisi teknologi, dan komunitas pendidikan untuk mendiskusikan tren teknologi terkini dalam konteks pendidikan. Dengan semangat “Connecting Ideas, Empowering Digital Education,” forum ini menjadi wadah kolaboratif lintas sektor untuk mempercepat transformasi digital yang inklusif.

Yudhistira Nugraha, Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, menegaskan bahwa pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) di pendidikan harus berakar pada ekosistem data yang solid. “AI is nothing without the data. Itulah kenapa pembangunan ekosistem satu data pendidikan menjadi fondasi utama,” tegasnya.

Menurutnya, Pusdatin tengah mengembangkan pusat analitik nasional untuk mendukung kebijakan berbasis data. Ia juga memperkenalkan inisiatif CDT Lab, ruang terbuka bagi guru, mitra teknologi, dan startup untuk menguji coba inovasi digital secara langsung.

“Pendidikan tak boleh sekadar jadi pengguna AI. Kita harus jadi pencipta solusi yang relevan dan berdampak,” ujarnya. Yudhistira juga menegaskan bahwa AI harus di lihat sebagai mitra pendidik, bukan pengganti, untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menyenangkan, terukur, dan adaptif.

Potensi Besar AI

Ilham Akbar Habibie, Ketua Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional (WANTIKNAS), menambahkan bahwa AI berpotensi besar dalam mendukung pemerataan dan kualitas pendidikan, terutama jika di sesuaikan dengan kebutuhan tiap sekolah. Ia menekankan pentingnya multiple helix collaboration—kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan profesi.

Baca Juga:  Raih Gold Play Button, Kemendikdasmen Gaungkan Pendidikan Inklusif

“Pendidikan adalah titik krusial dalam roadmap digital Indonesia. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” tegas Ilham.

Sementara itu, Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Fahmi Zulkarnain, menyoroti tantangan lapangan: ketimpangan literasi digital, infrastruktur terbatas, dan mahalnya implementasi AI. Namun ia tetap optimistis. “AI bisa jadi partner guru di kelas, menyederhanakan administrasi, dan memperkuat interaksi. Tapi negara harus hadir memimpin adopsinya,” katanya.

Dalam sesi demo, CEO Orbit Edutech M. Andy Zaky memperkenalkan Orbit EduBot—chatbot pendidikan berbasis AI yang mampu menjawab pertanyaan siswa, guru, orang tua, dan sekolah. EduBot terus belajar dari interaksi dan di rancang untuk mendukung pembelajaran yang personal dan humanis.

CDT Talks #2 di tutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang memperkuat semangat kolaborasi dan inovasi. Acara ini menandai komitmen Kemendikdasmen dalam membangun ekosistem pendidikan nasional yang cerdas, tangguh, dan berbasis teknologi strategis. (r6)

Pos terkait