Surabaya,(DOC) – Aksi demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Selasa(5/3/2024) siang berlangsung tegang. Demonstrasi tersebut di gelar oleh dua kelompok massa yang berbeda dan berlawanan pandangan politik.
Dalam aksi demonstrasi ini, mereka nampak saling berhadap-hadapan dalam berorasi di depan gedung negara Grahadi Surabaya.
Salah satu kelompok massa mengatasnamakan Aliansi Rakyat dan Mahasiswa Menggugat Jatim. Mereka menggelar demo atas kondisi bangsa yang di nilai carut-marut. Sehingga mereka turun ke jalan, guna mengkritik Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Kegelisahan warga Jatim, khususnya rakyat dan mahasiswa. Karena kondisi bangsa carut-marut dan complicated. Akar permasalahan kalau kita omong banyak sekali ada kefatalan tata kelola berbangsa dan bernegara. Ada pengkhianatan institusi dan konstitusi negara. Sehingga kita tergerak berkumpul bersama di sini untuk menyuarakan kebenaran,” ujar Koorlap aksi, Wawan Leak.
Menurut Wawan, ada campur tangan orang-orang yang melanggengkan beberapa kepentingan dari golongan tertentu.
“Ini ada invisible hand atau tangan tak kelihatan yang di lakukan tirani untuk melanggengkan status quo. Apa yang menyebabkan mereka memaksakan status quo, ini ada sesuatu yang di sembunyikan dan kita ungkap. Ada tangan-tangan enggak kelihatan yang di selimuti di pola demokratisasi ini,” jelasnya.
Puluhan orang yang mengatasnamakan Aliansi Rakyat dan Mahasiswa Menggugat Jatim ini juga menyuarakan agar segera menghentikan rezim pemerintahan sekarang.
“Kita ingin menyuarakan demokrasi yang di sampaikan rezim barbar harus di sudahi. Kedua, pola-pola gerakan rakyat mesti di denggungkan.
Kita akan menyalakan lilin sebanyak banyaknya di 38 Kabupaten/Kota khususnya di Jatim, untuk jadi gelombang perlawanan. Kami betul-betul bukan masalah Pemilu, tapi pengkerdilan demokrasi,” ucapnya.
Pernyataan Massa Aksi Lain
Sementara itu, di sisi lain, Aliansi Pemuda-pemudi Indonesia Bersatu malah sebaliknya. Mereka lebih menolak adanya hak angket, seperti beberapa spanduk yang mereka bentangkan pada aksi mereka.
“Jadi aksi kali ini adalah untuk mendukung apa yang menjadi keputusan Bawaslu dan KPU pada pemilu 2024. Kenapa kita harus gelar aksi? ini merupakan bentuk apresiasi kami karena apa, Bawaslu maupun KPU selama ini telah berjuang untuk mengumpulkan suara-suara rakyat. Karena dari suara rakyat ini yang akan menentukan siapa yang bakal menjadi pemimpin saat ini,” jelas korlap aksi, Kukuh pada awak media.
“Di luaran ini banyak, ada yang minta hak angket, pencoblosan ulang, saya rasa tak perlu lah.
“Karena apa, semua berdasarkan perolehan suara. Kemudian saya melihat tingkat bawah kelurahan Kecamatan bahkan kabupaten para KPPS ini sudah bekerja semaksimal mungkin bahkan sejak pagi hingga jelas pagi. Tentunya ini perjuangan berat jadi kita harus hargai apa keputusan mutlak di KPU,” imbuhnya.
Meski melakukan aksi demo dan bertentangan secara orasi, namun kedua massa aksi yang ada di depan Gedung Negara Grahadi ini di pisahkan oleh barusan kepolisian, sehingga mereka tak bersinggungan langsung satu sama lainnya, hingga kedua massa ini membubarkan diri secara tertib.(ang)






