Antisipasi Inflasi, Pemkot Surabaya Perluas Kerja Sama Pangan

Antisipasi Inflasi, Pemkot Surabaya Perluas Kerja Sama Pangan

Surabaya,(DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat langkah strategis untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok, terutama komoditas cabai, yang dalam beberapa pekan terakhir mengalami fluktuasi harga di pasar tradisional.

Bacaan Lainnya

Melalui berbagai upaya seperti Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan daerah-daerah penghasil, Pemkot berupaya menahan laju kenaikan harga agar tetap terjangkau oleh masyarakat.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, menyebut bahwa hasil pantauan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menunjukkan adanya tren kenaikan harga cabai di lima pasar tradisional Surabaya, yakni Pasar Genteng Baru, Tambahrejo, Wonokromo, Pucang Anom, dan Soponyono.

“Meskipun ada tren naik, harga cabai masih tergolong wajar dan berada di bawah Harga Acuan Penjualan Tingkat Konsumen (HAPK),” jelas Vykka, Jumat (19/9/2025).

Contohnya, harga cabai merah besar sempat naik dari Rp27.600 (3 September) menjadi Rp34.760 (17 September), namun masih di bawah HAPK Rp35.728 per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi pada cabai merah keriting dan cabai rawit merah, namun semuanya masih dalam batas aman.

Guna menjaga pasokan dan mencegah gejolak harga, Pemkot menggandeng TPID, Satgas Pangan Polrestabes Surabaya dan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, hingga BPOM, untuk melakukan sidak dan pengawasan intensif.

“Kami juga mengimbau para pelaku distribusi, baik produsen maupun pedagang, agar tidak melakukan penimbunan,” tegas Vykka.

Sebagai bentuk transparansi, Pemkot telah memasang layar digital harga dan stok bahan pokok di pasar-pasar strategis seperti Tambahrejo, Genteng Baru, Wonokromo, dan Pabean.

Pasar Murah dan Kios TPID Hadir di 31 Kecamatan

Untuk membantu masyarakat mendapatkan harga terjangkau, Pemkot Surabaya rutin menggelar Pasar Murah di 31 kecamatan secara bergilir setiap Selasa–Kamis. Tak hanya itu, kios TPID di beberapa pasar juga menyediakan bahan pokok harga miring setiap hari.

Baca Juga:  78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Kinerja Jadi Sorotan

“Kami juga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) bulanan dan operasi pasar untuk beras SPHP serta Minyakita,” tambahnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya, Antiek Sugiharti, menyebut pihaknya menginisiasi gerakan menanam tanaman pangan seperti cabai dan bawang merah.

“Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan rumah tangga terhadap pasar, sekaligus menekan permintaan yang bisa memicu lonjakan harga,” jelas Antiek.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Surabaya telah menjalin kerja sama antarpemerintah (G to G) dan pelaku usaha (B to B) dengan daerah penghasil cabai seperti Kediri, Malang, Bojonegoro, Probolinggo, Mojokerto, hingga Sidoarjo, untuk memastikan pasokan cabai tetap stabil.

“Stabilitas pasokan adalah kunci untuk mencegah gejolak harga,” pungkasnya. (r6)

Pos terkait