
Surabaya, (DOC) – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memperkirakan harga sejumlah barang di pusat perbelanjaan berpotensi mengalami kenaikan signifikan pada akhir tahun 2026. Lonjakan harga ini dipicu oleh efek berantai dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mendongkrak biaya logistik dan operasional ritel.
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, mengungkapkan bahwa saat ini pelaku usaha ritel masih berupaya keras menahan harga demi menjaga daya beli masyarakat. Namun, ruang bagi peritel untuk mempertahankan harga semakin menipis akibat tekanan beban di lini distribusi.
“Komponen biaya usaha terus meningkat tajam, terutama biaya logistik dan transportasi akibat kenaikan BBM, di samping biaya energi dan operasional lainnya. Kalau ini berkelanjutan terus, kami khawatir di triwulan IV-2026 para pelaku usaha ritel terpaksa harus menaikkan harga,” ujar Alphonzus, Senin (15/6/2026).
Menurut Alphonzus, hingga saat ini konsumen belum merasakan dampak langsung karena sebagian besar peritel masih menjual produk stok lama yang pengadaannya dilakukan sebelum penyesuaian harga BBM.
Namun, situasi diprediksi akan berubah drastis menjelang kuartal IV-2026. Pada periode tersebut, pelaku usaha ritel harus melakukan pengadaan barang besar-besaran (restocking) untuk menyambut musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Jika biaya logistik dan transportasi akibat kenaikan BBM belum stabil saat proses peluncuran stok baru berjalan, kenaikan harga di tingkat konsumen tidak akan terhindarkan.
“Biasanya untuk masuk ke peak season triwulan keempat, teman-teman peritel akan membeli barang untuk stok. Jika biaya logistiknya masih tinggi karena dampak BBM ini, pasti harga barang-barang baru yang masuk sudah mahal semua,” jelasnya.
Dilema Daya Beli Masyarakat
Meski tekanan biaya logistik kian berat, Alphonzus menegaskan bahwa menaikkan harga adalah pilihan terakhir yang sangat dihindari oleh pelaku usaha. Pasalnya, kondisi daya beli masyarakat khususnya kelompok menengah ke bawah yang menjadi kontributor utama transaksi di mal belum sepenuhnya pulih.
APPBI mengkhawatirkan kebijakan menaikkan harga justru akan memukul balik sektor ritel karena menurunnya volume penjualan.
“Kalau harga produk dinaikkan, bukannya ini justru memperparah daya beli masyarakat,” tanya Alphonzus.
Oleh karena itu, APPBI berharap pemerintah dapat memberikan stimulus atau kebijakan kompensasi di sektor transportasi logistik untuk meredam efek domino kenaikan BBM. Perbaikan iklim usaha dan efisiensi jalur distribusi dinilai menjadi kunci agar sektor ritel tetap tumbuh tanpa harus membebankan biaya tambahan kepada masyarakat menjelang akhir tahun.




