
Surabaya, (DOC) – Industri makanan dan minuman (mamin) nasional terbukti sukses menunjukkan daya tahan yang tinggi. Di tengah hantaman ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim global, sektor ini justru mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan di awal tahun 2026.
Setelah menutup tahun 2025 dengan pertumbuhan kokoh sebesar 6,38 persen, industri mamin langsung tancap gas pada triwulan I-2026 dengan mencetak pertumbuhan hingga 7,04 persen. Angka ini melesat jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,61 persen.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menegaskan bahwa performa impresif ini tidak lepas dari status industri mamin sebagai sektor kebutuhan dasar masyarakat yang selalu menjadi bumper utama penggerak ekonomi.
“Industri makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar masyarakat, sehingga tetap memiliki peran penting sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional di berbagai kondisi ekonomi,” ujar Adhi, Minggu (21/6/2026).
Meski menorehkan rapor hijau, Adhi tidak menampik bahwa para pelaku usaha saat ini tengah menavigasi bisnis di tengah badai tantangan global. Ketegangan geopolitik dan anomali cuaca memicu efek domino berupa lonjakan harga bahan baku, pembengkakan biaya logistik, hingga tingginya tarif energi.
Di sisi domestik, tantangan bertambah karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Menghadapi situasi pelik ini, para produsen mamin dipaksa memutar otak agar produk mereka tetap kompetitif tanpa mengorbankan pasar.
“Kami terus berupaya menghasilkan produk yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Sebab, tantangan riil yang kami hadapi di pasar saat ini adalah menjaga daya beli konsumen,” imbuh Adhi.
Saat ini, sektor mamin memegang peranan krusial dengan menyumbang sekitar 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau mendominasi hingga 42 persen dari total PDB industri non-migas. Sektor ini juga menjadi ladang devisa yang subur dengan nilai ekspor produk olahan menembus angka USD 13 miliar (belum termasuk komoditas sawit yang mencapai USD 40 miliar).
Efisiensi Teknologi Jadi Kunci Lewat EastFood Indonesia 2026
Untuk mempertahankan tren pertumbuhan di tengah tekanan eksternal, industri mamin nasional dituntut melakukan efisiensi radikal. Salah satu langkah strategisnya adalah melalui adopsi teknologi pengolahan pangan terbaru dan perluasan kolaborasi.
Menjawab tantangan tersebut, Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menilai kehadiran ruang kolaborasi internasional seperti pameran EastFood Indonesia 2026 menjadi sangat momentum.
“EastFood Indonesia 2026 bukan sekadar pameran produk. Ini adalah platform strategis bagi pelaku usaha untuk saling bertukar inovasi, membaca tren pasar global, dan menemukan teknologi pengolahan pangan terbaru demi meningkatkan efisiensi produksi,” kata Daud.
Melalui efisiensi teknologi, pelaku usaha diharapkan mampu menekan biaya operasional di tengah mahalnya ongkos produksi global.
Pameran tahun ini diikuti oleh lebih dari 180 peserta lintas sektor industri mamin. Tak hanya industri manufaktur besar, ajang ini juga melibatkan 30 pelaku UMKM binaan guna membangun ekosistem rantai pasok (supply chain) lokal yang lebih kuat, kompetitif, dan siap merambah pasar global.





