
Jakarta, (DOC) – PT PLN (Persero) mempercepat pengadaan pasokan batu bara kalori menengah (medium rank coal) demi memastikan operasional pembangkit listrik tetap normal dan pasokan listrik masyarakat terjaga.
Menurut Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, percepatan tersebut direalisasikan melalui penandatanganan kontrak dengan para pemasok batu bara yang telah menerima penugasan dari pemerintah.
“Kami juga mempercepat penandatanganan kontrak kepada para pemasok batu bara, terutama medium rank coal yang sudah mendapatkan penugasan dari pemerintah,” ujar Darmawan dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Darmawan mengatakan bahwa PLN terus berkoordinasi secara intensif dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM untuk mempercepat proses pengadaan. Koordinasi tersebut dilakukan bersama Dirjen Minerba Tri Winarno guna memastikan kebutuhan bahan bakar pembangkit dapat segera terpenuhi.
Ia menambahkan, dukungan alokasi batu bara kalori menengah dari pemerintah menjadi langkah penting untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan nasional, khususnya di Pulau Jawa yang menjadi pusat konsumsi listrik terbesar di Indonesia.
“Dengan alokasi medium rank coal dan juga arahan dari Bapak Menteri ESDM, PLN akan melakukan perbaikan agar proses penyediaan tenaga listrik bisa berjalan dengan lancar,” katanya.
Saat ini, pasokan batu bara kalori menengah mulai disalurkan ke sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Pulau Jawa. Pasokan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi pembangkit milik PLN, tetapi juga pembangkit milik mitra PLN dan Independent Power Producer (IPP).
Untuk wilayah Jawa bagian barat, pasokan akan mengalir ke PLTU Pelabuhan Ratu, Lontar, Labuan, Suralaya 1 hingga 8, Jawa 7, Jawa 9 dan 10, serta Indramayu. Sementara di Jawa bagian timur, pasokan akan diterima oleh PLTU Paiton 1 dan 2, Paiton 9, Rembang, Pacitan, hingga Tanjung Awar-awar.
Di tengah upaya pemulihan sistem kelistrikan, Darmawan juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas terjadinya pemadaman bergilir yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa.
“Kami atas nama PT PLN (Persero) ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya karena Pulau Jawa mengalami pemadaman bergilir. Kami memahami kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dengan adanya peristiwa ini,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kebutuhan batu bara PLN mencapai sekitar 154 juta metrik ton per tahun. Dari jumlah tersebut, PLN telah mengamankan kontrak pasokan sekitar 134 juta ton, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 20 juta ton.
Menurutnya, tantangan utama saat ini terletak pada ketersediaan batu bara kalori menengah dengan spesifikasi sekitar 5.200 kkal per kilogram GAR yang menjadi kebutuhan utama pembangkit PLN.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian ESDM membentuk tim khusus pengadaan batu bara kalori menengah guna mempercepat pemenuhan kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik nasional.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang untuk melakukan evaluasi terhadap harga batu bara bagi PLN. Langkah tersebut dipertimbangkan seiring meningkatnya biaya produksi yang ditanggung pemasok dan pentingnya menjaga keberlanjutan pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO).
Saat ini harga batu bara DMO untuk PLN masih ditetapkan sebesar US$70 per ton. Pemerintah berharap skema yang diterapkan nantinya dapat menjaga keseimbangan antara keberlanjutan usaha pertambangan dan keamanan pasokan energi nasional.





