BGN Setop Sementara Program MBG untuk Pembenahan Sistem

BGN Setop Sementara Program MBG untuk Pembenahan Sistem
Ilustrasi MBG. (Foto: Ist)


Surabaya, (DOC)Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Kebijakan ini diambil sebagai langkah evaluasi dan pembenahan tata kelola program, yang belakangan menjadi sorotan publik menyusul mencuatnya sejumlah kasus keracunan makanan di beberapa daerah.

Di tengah penghentian sementara tersebut, berbagai tanggapan muncul dari masyarakat. Sebagian warga mengakui program ini membawa dampak positif bagi anak-anak sekolah. Namun, tidak sedikit pula yang mendesak agar aspek keamanan pangan dijadikan prioritas utama sebelum program ini kembali digulirkan.

Bacaan Lainnya

Nurhayati (40), seorang guru Madrasah Aliyah di Jember, menilai konsep MBG pada dasarnya sangat baik jika mampu menghadirkan makanan yang benar-benar sehat dan bermutu.

“Kalau menunya benar-benar bergizi dan tidak asal-asalan, ya perlu. Tapi kalau kualitas makanannya tidak diperhatikan, lebih baik dievaluasi dulu,” ujar Nurhayati saat dikonfirmasi, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, program berskala nasional seperti MBG seharusnya lebih difokuskan kepada siswa yang benar-benar membutuhkan, terutama mereka dari keluarga kurang mampu atau yang tinggal di daerah dengan tingkat kerawanan gizi tinggi.

“Kalau sasarannya tepat, tentu manfaatnya besar. Ada anak-anak yang mungkin berangkat sekolah tanpa sarapan atau kebutuhan gizinya belum terpenuhi di rumah. Mereka yang seharusnya diprioritaskan,” imbuhnya.

Meski demikian, Nurhayati mengaku penghentian sementara program selama libur sekolah ini tidak berdampak pada aktivitas belajar mengajar karena siswa sedang tidak berada di sekolah. Ia berharap momentum ini dimanfaatkan pemerintah untuk mengevaluasi menyeluruh sistem distribusi, pengolahan, hingga pengawasan makanan.

“Kalau nanti dilanjutkan lagi, harapannya kualitas benar-benar dijaga. Jangan sampai tujuan baik program ini justru menimbulkan masalah baru,” tutur Nurhayati.

Pandangan senada disampaikan oleh Nana (40), seorang ibu dengan dua anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP di Kota Surabaya. Sebagai orang tua, ia mendukung penuh upaya pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, namun dukungan tersebut harus dibarengi dengan jaminan keamanan pangan yang ketat.

Baca Juga:  Ratusan Pelajar dan Santri di Mojokerto Keracunan MBG

“Saya bukan orang yang menolak program makanan bergizi. Sebagai ibu, saya justru peduli soal makanan sehat untuk anak-anak. Tapi yang membuat saya marah adalah ketika ada anak-anak yang justru mengalami keracunan akibat kelalaian pengelolaan,” kata Nana kesal.

Menurut Nana, kasus-kasus keracunan yang sempat terjadi menjadi alarm penting bahwa program masif ini membutuhkan sistem pengawasan yang matang dan profesional. Pemerintah harus menjamin keamanan seluruh proses, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga jalur distribusi.

Ia juga mempertanyakan kesiapan pelaksana program dalam mengantisipasi risiko pengelolaan makanan massal, seperti kontaminasi bakteri atau kerusakan bahan pangan. Baginya, keselamatan anak-anak tidak boleh dikompromikan demi mengejar target pelaksanaan program.

“Ini menyangkut kesehatan dan nyawa anak-anak. Kalau memang ada kekurangan dalam pelaksanaannya, lebih baik diperbaiki dulu sampai benar-benar siap. Paling penting sekarang adalah memastikan anak-anak terlindungi,” tegas Nana.

Sebagai informasi, BGN memutuskan menghentikan sementara penyaluran MBG sepanjang libur sekolah untuk melakukan penataan dan penyempurnaan tata kelola program. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat fungsi pengawasan serta meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG ketika kembali disalurkan nanti.

Pos terkait