
Surabaya, (DOC) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membuktikan bahwa ramah investasi bukan sekadar soal kemudahan izin, melainkan tentang bagaimana modal yang masuk bisa langsung mengalir dan berdampak pada warga lokal.
Komitmen ini ditegaskan kembali dalam ajang penghargaan bergengsi Anugerah Investa Surabaya (AIS) 2025 yang digelar di Lobi Lantai 2 Balai Kota Surabaya, Selasa (23/6/2026). Mengusung tema “Surabaya Gerbang Investasi Kelas Dunia”, Pemkot memberikan apresiasi tertinggi kepada 22 perusahaan yang dinilai paling patuh regulasi dan membawa dampak ekonomi terbesar bagi Kota Pahlawan.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penghargaan ini adalah bentuk penghormatan bagi para investor yang tidak sekadar mencari untung, tetapi juga ikut membangun kota.
Tim juri menetapkan tiga indikator ketat: nilai modal, kepatuhan administrasi, dan yang paling krusial adalah komitmen memprioritaskan warga asli Surabaya sebagai tenaga kerja.
“Kami ingin investasi di Surabaya ini legal, aman, dan nyaman. Ketika investasi masuk, roda ekonomi bergerak. Mereka butuh pekerja, pekerjanya harus warga Surabaya. Untuk konsumsi karyawan, menunya bisa disuplai oleh UMKM lokal. Inilah efek domino yang kita cari,” ujar Eri.
Cak Eri mengingatkan bahwa kontribusi para pengusaha melalui pajak inilah yang kemudian diputar kembali oleh Pemkot untuk membiayai program sosial, mulai dari pendidikan dan kesehatan gratis, hingga bedah rumah tidak layak huni bagi warga miskin.
Demi mendongkrak realisasi modal, Pemkot Surabaya juga telah membuka Klinik Investasi di bawah naungan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Fasilitas ini dirancang agar para pelaku usaha bisa berkonsultasi dan memangkas birokrasi perizinan menjadi jauh lebih cepat dan transparan.
Tak main-main, Cak Eri juga memberikan peringatan keras kepada seluruh jajarannya agar tidak ada yang berani “bermain” atau mempersulit proses perizinan.
Kalau ada yang mempersulit atau bahkan ada pungutan liar (pungli), investor silakan langsung hubungi saya atau lewat hotline Lapor Cak Eri. Saya garansi kenyamanan Anda berinvestasi di sini,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala DPMPTSP Kota Surabaya, Lasidi, menjelaskan bahwa AIS tahun ini diikuti oleh berbagai sektor strategis, mulai dari real estate, perhotelan, industri, rumah sakit, hingga sektor perdagangan dan jasa.
Proses kurasi berjalan sangat ketat melalui pengisian kuesioner mandiri kepatuhan hingga penilaian dampak sosial nyata di lapangan. Dari 35 nominasi yang masuk, terpilih 22 pelaku usaha terbaik yang berhak menyandang predikat Terbaik I, II, dan III, termasuk kategori khusus untuk UMKM.
Melalui standardisasi layanan dan jaminan keamanan berinvestasi ini, Pemkot Surabaya optimis angka kemiskinan akan terus ditekan.
“Tujuan utama kita adalah memperkuat sinergi antara investor besar dengan pelaku UMKM lokal. Kami berharap, makin suburnya investasi di Surabaya akan berbanding lurus dengan turunnya angka pengangguran terbuka secara signifikan,” pungkas Lasidi.





