Surabaya,(DOC) – Berbagai program pengentasan pengangguran telah di buka oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Seperti di antaranya program padat karya dan intervensi perkembangan UMKM hingga di sektor informal.
Namun demikian Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony menganggap, hal itu masih belum merubah keadaan perekonomian akibat dampak pandemic Covid-19. Bahkan jauh di bawah target yang telah di tetapkan oleh eksekutif dan legislative.
“Sekarang terjadi bonus demografi. Kondisinya (perekonomian) masih berat. Hal ini nampak dari pendapatan di sektor PBB(Pajak Bumi Bangunan) yang menurun tajam, karena masih banyak tunggakan. Banyak orang kaya yang miskin mendadak (nganggur) sehingga tidak bisa bayar,” ungkap A.H Thony, saat di temui di luar ruang kerjannya, Senin(1610/2023).
Untuk mengurainya, lanjut AH Thony, secara demografi Pemkot Surabaya harus bisa memetakan (me-mitigasi) warganya yang sudah masuk pada angkatan kerja produktif. Sekaligus mendata yang menganggur dan kemampuan masing-masing individu.
“Setelah itu baru kita bedah potensi kegiatan yang bisa menjadikan ekonomi bergerak. Caranya harus berfikir lebih detil. Jangan lagi makro,” tambah Thony.
Artinya, ia menambahkan, kalau membuat kebijakan padat karya jangan terserah mau membuat apa. Namun harus lebih detil lagi. Terlebih bagi yang menganggur dengan keahlian tertentu dan di hitung jumlahnya.
“Jika sedikit di masukkan dalam sub ordinasi yang sudah ada. Kalau besar jumlahnya di buatkan klaster sehingga bisa menjadi siklus ekonomi baru. Jangan mengatasi pengangguran itu hanya sebagai jargon, lalu berjalan sekedar. Tetapi konkrit dan detil,” tandasnya.
Menurut dia, sistem informasi harus di buat di era smart city, sehingga pada saat ada pengangguran sudah bisa terdeteksi. Lengkap dengan nama, keahliannya dan langsung di ketahui peluang kerjanya.
“Ini bisa di buat oleh para programmer yang kita punya, untuk membuat modul kegiatan soal kebutuhan pokok mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan dari lahir hingga kematian datang, itu di hitung, karena ada jutaan kebutuhan yang bisa di ketahui sekaligus porsinya,” harapnya.
Contoh paling mudah soal kebutuhan sabun di pagi hari saat bangun tidur. Ini butuh berapa dan bisa di kerjakan oleh berapa orang untuk memenuhi. Jika jumlahnya besar, maka bisa dikembangkan, siapa yang mendatangkan bahan dan siapa yang memproses pembuatannya, kemudian packing dan distribusinya.
“Dari situ bisa di ketahui dalam pemenuhan kebutuhan satu jenis barang yang bisa di kerjakan berapa orang dan hasilnya berapa. Jika ternyata hasilnya melebihi UMR maka bisa di pecah untuk warga nganggur lainnya. Sehingga warga tidak di suguhi program yang hanya grambyangan saja, tetapi berdasarkan data kuat dan akurat,” pungkasnya.(r7)





