
Surabaya(DOC) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menghadiri acara Pengukuhan Guru Profesional Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 2 Tahun 2024 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya di Mercure Grand Mirama, Kamis (26/6/2025). Dalam acara tersebut, Wali Kota Eri hadir sebagai narasumber dan menyampaikan pesan penting soal peran guru di tengah transformasi digital.
Dalam sambutannya, Cak Eri menyampaikan rasa syukur atas di kukuhkannya sekitar 1.020 guru profesional tahun ini. Ia menegaskan bahwa pembangunan kota tidak akan berhasil tanpa peran sentral guru.
“Tidak ada kota hebat tanpa guru hebat. Saya pun tidak akan bisa mengubah Surabaya seperti sekarang tanpa jasa guru,” tegasnya.
Cak Eri mengingatkan bahwa para guru masa kini perlu beradaptasi dengan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI). Ia mendorong pemanfaatan AI sebagai alat bantu dalam mempercepat pembelajaran, menyusun materi, dan memantau perkembangan siswa secara lebih akurat.
“Mau tidak mau, kita sudah berdampingan dengan AI. Sehebat apa pun mesinnya, tetap butuh input dari guru. Maka, manfaatkan AI untuk mengajar lebih efektif,” ujarnya.
Ia mengutip data dari Forum Ekonomi Dunia 2025 yang menyebut 71 persen guru global mengakui pentingnya AI dalam menunjang keberhasilan siswa. Sementara itu, data Forbes 2025 menunjukkan 60 persen guru di negara maju telah menggunakan AI untuk tugas-tugas seperti membuat soal, menilai ujian, dan memantau pembelajaran.
“Kita tidak boleh tertinggal dari anak-anak kita sendiri. Guru harus terus meng-upgrade diri di era digital,” tambahnya.
Sebagai Ketua Dewan Pengurus APEKSI, Cak Eri berharap para guru, khususnya di Surabaya, menjadi pelopor integrasi AI dalam pembelajaran dan menjadikannya kolaborasi, bukan kompetisi.
“Teknologi bisa jadi kekuatan besar. Tapi perubahan tetap butuh sentuhan guru untuk menjangkau anak-anak lebih cepat dan mendalam,” tegasnya.
Rektor UINSA: Guru Harus Jaga Akhlak, Bukan Sekadar Sumber Informasi
Sementara itu, Rektor UINSA Prof. Akh Muzakki menambahkan bahwa peran guru harus bergeser dari sekadar penyampai informasi menjadi penjaga nilai moral dan karakter siswa.
“Sekarang AI bisa bantu bikin disertasi. Tapi AI tidak bisa ajarkan adab, etika, dan akhlak. Maka di situlah posisi guru yang tak tergantikan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya guru masa kini memperkuat nilai akhlak, etika, moral, dan adab di tengah penetrasi teknologi yang semakin luas. (r6)





