Ilustrasi DBD. (Foto: Ist)
Surabaya, (DOC) – Memasuki musim hujan, kewaspadaan terhadap penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) harus ditingkatkan. Untuk menekan angka kasus, masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan cara konvensional, melainkan mengombinasikan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dengan langkah perlindungan modern berupa vaksinasi dengue.
Pendekatan menyeluruh ini dinilai menjadi perisai terkuat dalam memutus rantai penularan nyamuk Aedes aegypti yang gemar berkembang biak di genangan air bersih selama musim penghujan.
Direktur National Hospital, dr. Hendera Henderi, Sp.O.G., M.H.P.M., menegaskan bahwa pencegahan DBD tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Komitmen menjaga kebersihan lingkungan harus berjalan beriringan dengan proteksi medis dari dalam tubuh.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap demam berdarah, terutama menjelang musim hujan. Edukasi yang tepat dan vaksinasi dapat menjadi langkah penting dalam menurunkan risiko infeksi serta mencegah komplikasi yang lebih berat,” ujar dr. Hendera saat ditemui di National Hospital, Kamis (25/6/2026).
Strategi Ganda Untuk Memutus Rantai DBD
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, National Hospital Surabaya merangkum dua pilar utama cara pencegahan DBD yang dapat diterapkan masyarakat adalah aksi nyata di lingkungan dengan menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Langkah “Plus” juga perlu dimaksimalkan, seperti menaburkan bubuk larvasida, menghindari kebiasaan menggantung pakaian, hingga menggunakan obat nyamuk.
“Selain itu, vaksinasi kini menjadi strategi krusial yang mendapat perhatian besar. Vaksinasi dinilai sangat efektif dalam menurunkan risiko kesakitan dan mencegah fatalitas (kematian) akibat serangan virus dengue,” terangnya.
Langkah preventif yang masif ini menjadi sangat mendesak mengingat urgensi data sebaran kasus. Di negara tropis seperti Indonesia, DBD masih menjadi tantangan besar.
Data sepanjang 2024 menunjukkan sekitar 75 persen kasus dengue justru menyerang kelompok usia produktif dan anak-anak (5 hingga 44 tahun), dengan angka kematian tertinggi berada pada kelompok usia sekolah, yakni 5 hingga 14 tahun.
DBD merupakan penyakit infeksi virus yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya bisa berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi. Jika terlambat ditangani, penyakit ini berisiko memicu kondisi kritis.
Oleh karena itu, dr. Hendera menambahkan bahwa kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci utama yang menentukan keberhasilan penanganan DBD di Indonesia.
Melalui peningkatan kepedulian terhadap kombinasi cara pencegahan ini, diharapkan grafik kasus maupun angka kematian akibat demam berdarah dapat ditekan secara signifikan. Masyarakat pun dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih aman, sehat, dan nyaman selama musim hujan berlangsung.



