D-ONENEWS.COM

Datangi Gedung DPRD, Puluhan Seniman THR Ancam Gugat Pengambil Gamelan

Surabaya,(DOC) – Puluhan seniman yang mengenakan pakaian adat mendatangi gedung DPRD, jalan Yos Sudarso, Surabaya, Jumat(16/5/2019).

Para seniman yang tergabung dalam Komunitas Seniman THR, menyampaikan protes atas sikap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya yang mengambil gamelan di ruang Pringgodani THR, pada 9 Mei 2019 lalu.

Meimura, Sekretaris Ludruk Irama Budaya menjelaskan, gamelan itu selama ini digunakan para seniman untuk pentas budaya.

“Selain gamelan, lampu sorot dan sound system juga diambil. Sekarang gedung pentas para seniman juga digembok Dispbudpar,” ungkap Meimura saat ditemui Komisi D DPRD kota Surabaya.

Hingga saat ini, kata Meimura, belum diketahui alasan Disbudpar melalui UPTD THR melakukan pengambilan gamelan dan penyegelan gedung pentas tersebut.

“Kami sangat menyesalkan. Apalagi itu tidak ada berita acaranya,” kecam Meimura.

Menurut Meimura, gamelan yang ada di ruang Pringgodani sudah lama digunakan pada seniman. Untuk itu, meski gamelan itu milik Disbudpar, harus ada mekanisme ketika hendak diambil.

“Saya menilai pemerintah kota tidak memiliki solusi. Begitu juga soal pengosongan THR,” tandasnya.

Seniman yang lain, Hartiyah, menilai kepedulian pemerintah kota terhadap kesenian tradisional sangat rendah. Ia mengaku sudah menjadi seniman di THR sejak 200, namun selama ini Pemkot tidak pernah memperhatikan.

“Pemkot tidak care. Tolong, kami ini dibantu,” jelasnya.

Para seniman Surabaya ingin tetap terus eksis. Menurut Hartiyah, selama ini para seniman tetap bersedia tampil, meski penontonnya hanya 6-9 orang.

“Pendapatannya dibagi rata dengan jumlah personel grup, Kadang kami hanya menerima uang Rp 12 ribu per-bulan. Tapi kami rela karena itu demi seni. Jadi tolong kembalikan gamelan agar kami bisa melestarikan budaya di THR,” lanjutnya.

Sejumlah seniman lainnya memprediksi, bahwa gedung kesenian THR akan mati, apalagi setelah gamelan para seniman diambil oleh Disbudpar. Padahal eksistensi mereka selama ini untuk tetap meramaikan THR.

“Kami ingin meramaikan aset Surabaya. Dulu orang ke Surabaya yang dituju adalah THR. Sekarang THR dengan kuburan saja kalah ramai,” celetuk sejumlah seniman dalam aksinya.

Sementara itu, Penasehat Ludruk Gema Budaya THR, Bagong Sinukerto, menegaskan, bahwa tindakan Disbudpar akan di gugat secara hukum.

“Itu tidak dapat dibenarkan. Kita tunggu ending-nya. Jika buntu, akan kita kaji rencana melayangkan gugatan,” tandasnya.

Menurut Bagong, pengambilalihan gamelan di THR itu bisa dikategorikan pelanggaran pidana mengacu pada UU no 5 tahun 2017 pasal 41 ayat 3 yang intinya ‘setiap orang berhak menggunakan gedung kesenian dan pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana’.

“Sesuai pasal 55 ancamanya 5 tahun atau denda Rp 10 miliar bagi pihak-pihak yang berusaha menghambat kemajuan kesenian. Tidak semua seniman bodoh dan bento, ini tindakan semena-mena,” tegasnya.

Menanggapi keluhan dari pada seniman, Ketua DPRD Surabaya, Armuji, mengecam pengambilan gamelan oleh Disbudpar. Menurut dia, perlu dilakukan dialog sebelum melakukan tindakan. “Disbudpar tidak bisa langsung main angkut,” ujar Armuji.

Ia khawatir tindakan ini hanya untuk pencitraan Pemkot Surabaya saja.

“Mereka kan tidak tahu berkesenian itu seperti apa, bagaimana susahnya membina. Para seniman bertahan hidup, dan mau berkreasi dalam bentuk ketoprak, ludruk maupun wayang. Ini kan susah,” tandasnya.(robby/r7)

Loading...