
Lumajang, (DOC) — Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lumajang (Disarpus) menggelar lomba mewarnai tingkat TK/PAUD dalam rangka Festival Literasi Lumajang 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mengenalkan budaya literasi kepada anak sejak usia dini.
Festival Literasi Lumajang 2026 tersebut mengusung tema “Lumajang Unggul, Amanah dan Berkeadilan”. Lomba mewarnai diikuti 46 peserta dari tingkat TK/PAUD yang tampak antusias mengikuti kegiatan.
Selain menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas, lomba mewarnai tersebut juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka tidak hanya dituntut mampu mewarnai gambar, tetapi juga menuangkan ide dan kreativitas melalui karya.
Pustakawan Disarpus Kabupaten Lumajang, Chindy Viorariska, mengatakan lomba mewarnai tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan seni anak. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk meningkatkan literasi sejak usia dini.
“Tujuan lomba mewarnai ini adalah untuk meningkatkan literasi anak sejak dini. Melalui kegiatan yang menyenangkan, anak-anak diharapkan semakin dekat dengan buku, perpustakaan, serta berbagai kegiatan edukatif,” ujar Chindy, Minggu (20/9/2026).
Menurut Chindy, literasi tidak selalu harus dikenalkan melalui kegiatan membaca. Kreativitas, kemampuan mengenal warna, mengikuti instruksi, berkomunikasi, hingga keberanian mengekspresikan diri juga menjadi bagian dari proses tumbuhnya kemampuan literasi anak.
Ia berharap kegiatan serupa dapat membantu menumbuhkan budaya literasi secara bertahap, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
“Mari mengenalkan literasi sejak dini melalui kegiatan yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan dunia anak. Karena dari kebiasaan kecil hari ini, dapat tumbuh generasi yang gemar membaca, kreatif, dan berpengetahuan,” katanya.
Sementara itu, Supervisor Gramedia Farid Maghfur yang terlibat dalam penilaian lomba menjelaskan sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan juri dalam menentukan pemenang.
Untuk kategori A atau tingkat TK/PAUD, penilaian meliputi kreativitas, komposisi warna, kerapian, kebersihan, serta kesesuaian dengan tema yang ditentukan.
“Kreasi kan di situ ada komposisi warna, penambahan-penambahan. Berarti tidak melulu pada gambar itu, ada penambahan-penambahan apa yang sekiranya cocok untuk media gambar ini,” jelas Farid.
Selain kreativitas, aspek kerapian dan kebersihan hasil karya juga menjadi bagian dari penilaian. Juri juga melihat kesesuaian karya peserta dengan tema kegiatan yang berkaitan dengan sekolah dan literasi melalui kerja sama dengan perpustakaan.
Dari 46 peserta, panitia dan juri kemudian menetapkan tiga pemenang. Juara pertama diraih Alma, juara kedua Hansa, sedangkan juara ketiga diraih Nadira.
Farid menilai seluruh peserta yang berani mengikuti lomba pada dasarnya telah menunjukkan keberanian dan kreativitas.
“Untuk para peserta yang pertama, dari yang tidak menjadi juara, tidak ada yang kalah. Saya kira peserta itu saya anggap pemenang semua, karena menang dalam hal berani. Berani untuk tampil, mengikuti lomba ini, walaupun belum juara 1, 2 atau 3,” ungkapnya.
Ia berpesan kepada seluruh peserta agar tidak berhenti berkarya dan mengembangkan kreativitas. Menurutnya, pengalaman mengikuti lomba dapat menjadi bekal bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengikuti berbagai kegiatan serupa di masa mendatang.
“Jangan berhenti untuk berkreasi, berkarya yang disampaikan dalam bentuk gambar. Insyaallah untuk ke depannya kita harus belajar lagi, supaya nanti bila ada lomba atau event seperti ini, siapa tahu nanti bisa menang,” pungkas Farid.


