
Surabaya, (DOC) – Dispendik Surabaya menanggapi serius isu yang berkembang di media sosial. Isu tersebut memperlihatkan fenomena guru atau tenaga pendidik yang ragu dalam memberikan nasihat, teguran, atau melerai siswa. Kepala Dispendik Surabaya, Yusuf Masruh, menyatakan pihaknya sedang merancang strategi agar pembelajaran tetap kondusif.
“Kami sudah bertemu dengan MKKS dan K3S serta elemen sekolah lainnya untuk merespon fenomena ini,” ujar Yusuf, Jumat (1/11/2024).
Menurut Yusuf, pihaknya juga melibatkan komite sekolah dan orang tua siswa dalam mencari metode pembelajaran terbaik.
“Harapan kami adalah menemukan cara agar kegiatan belajar tetap berjalan dengan aman dan nyaman,” tambahnya.
Ia menambahkan, pihaknya ingin agar guru dapat memahami metode yang tepat untuk mengajar dan menasihati siswa. Yusuf juga mengimbau para guru untuk menghindari tindakan kekerasan fisik maupun verbal dalam memberikan sanksi.
Di setiap sekolah, terdapat Tim Penanganan dan Pencegahan Kekerasan (TPPK) untuk menjaga keamanan proses belajar mengajar. TPPK juga berfungsi memberi pemahaman tentang jenis-jenis kekerasan yang perlu di hindari.
“Misalnya, ketika siswa bercanda berlebihan hingga menyentuh batas yang berisiko menjadi bullying,” jelasnya.
Dalam waktu dekat, Yusuf juga akan berkoordinasi dengan MGMP dan KKG guna menyusun SOP dalam memperlakukan siswa.
“Komitmen seluruh warga sekolah harus sejalan. Orang tua dan guru harus paham cara menangani siswa,” katanya.
Sebagai upaya edukasi, Yusuf menekankan pentingnya siswa memahami hak dan kewajiban mereka di sekolah. Hak siswa adalah mendapatkan pendidikan yang aman dan nyaman, sementara kewajiban mereka adalah hadir dan mengikuti pelajaran.
“Kami juga bekerja sama dengan DP3A-PPKB untuk menyediakan kelas parenting. Orang tua dapat konsultasi ke sekolah jika ada masalah dengan anaknya,” pungkas Yusuf. (r6)





