Surabaya,(DOC) – Anggota Komisi A DPRD Surabaya Fatkur Rohman mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bersinergi dengan bagian Humas Pemkot Surabaya untuk menghadirkan konten-konten menarik, terkait ekplorasi tulisan dan dongeng para remaja yang menceritakan seluk beluk Kota Surabaya.
Menurut dia, ini bisa menjadi program promosi bagi Kota Surabaya lewat humas pemkot. “Akan lebih bagus lagi jika bisa dituangkan dalam channel youtube dan ditambahkan terjemahan bahasa Inggris. Ini bisa menjadi konsumsi level internasional,” ujar dia, Selasa (20/4/2021)
Selain dengan bagian Humas Pemkot Surabaya, lanjut Fatkur Rohman, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan juga bisa menjalin kerja sama dengan bagian Kerja Sama Pemkot Surabaya, agar konten event menulis dan mendongeng menjadi salah satu bahan promosi Surabaya. Konten-konten tersebut bisa dishare ke kota-kota Sister City, terutama yang grade A.
Namun, karena saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19, maka semua komunikasi bisa beralih ke digital.
Politisi PKS ini juga berharap agar pemkot juga memfasilitasi adik-adik remaja yang cinta menulis dan mendongeng ini bisa mengikuti event-event yang tidak hanya terkait dengan promosi kota, tapi juga yang bersifat komersial.
Mungkin di masa depan, lanjut dia, ini akan menjadi pekerjaan mereka secara profesional.
Sementara untuk menarik minat para remaja dalam program peningkatan minat baca, menulis, mendongeng atau bahkan multimedia, pemkot bisa memfasilitasi dengan menghadirkan seorang idola untuk menjadi nara sumber.
“Ingat, psikologi anak-anak itu akan lebih termotivasi jika penyampainya adalah idola yang sudah sukses di bidangnya, ” ungkap dia.
Sementara Kadis Perpustakaan dan Kearsipan, Musdiq setuju usulan menghadirkan idola untuk menambah semangat adik adik remaja dalam mengikuti program di event-event literasi.
Faktanya, sejak 2019, peserta yang mengikuti program pada event literasi ini mencapai 1.200 anak penulis dan pendongeng.
“Ini luar biasa, dan bibit-bibit itu bahkan sudah muncul sejak SD,” ujar Musdiq.
Perlu diketahui, bahwa Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya, salah satu programnya adalah ‘Gerakan Mendongeng dan Menulis 1.000 (Gendis Sewu)’.
Gendis Sewu adalah program untuk memunculkan 1.000 penulis dan 1.000 pendongeng baru terutama dari kalangan anak-anak. Karena asumsinya, kata Musdiq, anak-anak yang suka menulis juga suka membaca.
Dia mengakui, salah satu tantangan dalam meningkatkan budaya literasi adalah teknologi.
“Kita tidak bisa menghindari teknologi, justru bagaimana membangun minat membaca, menulis,dan mendongeng inipun dengan pendekatan teknologi multimedia, jelas dia.
Musdiq menyatakan, jangan sampai karena tidak ada alternatif berbasis digital, justru anak-anak terjebak dengan tayangan-tayangan yang tidak mendidik dan kurang bermanfaat bagi tumbuh kembang mereka. (dhi/r7)





