Dua Jemaah Asal Lumajang Wafat Saat Menjalankan Ibadah Haji

Dua Jemaah Haji Asal Lumajang Wafat Saat Menjalankan Ibadah Haji

Lumajang, (DOC)Dua jemaah haji asal Kabupaten Lumajang dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan rangkaian ibadah haji 2026 di Mekkah, Arab Saudi. Kedua jemaah yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 99 tersebut menghembuskan napas terakhirnya akibat penyakit tekanan darah tinggi.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, kedua jemaah tersebut dilepas dan diberangkatkan langsung oleh Bupati Lumajang Indah Amperawati di Pendopo Aryawiraraja Lumajang pada Sabtu (16/5/2026).

Kepala Kantor Kementerian Haji/Agama Lumajang, Umar Hasan, membenarkan informasi mengenai wafatnya dua jemaah asal Kabupaten Lumajang tersebut.

“Benar, ada dua jemaah kita dari Kloter 99 yang meninggal dunia di Tanah Suci karena kondisi kesehatan, tepatnya masalah tekanan darah tinggi,” ujar Umar Hasan saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026).

Identitas Jemaah yang Wafat

Umar Hasan membeberkan identitas kedua jemaah tersebut. Jemaah pertama yang wafat diketahui bernama Yuwono Soewalidi Kelurahan Tompokersan, Kecamatan Lumajang. Yuwono dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (29/5/2026), di Mina Al Wadhi Hospital Arab Saudi.

Sementara, jemaah kedua adalah Mistari Bin Kastomo, warga Desa Padang, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang. Mistari meninggal dunia pada Minggu (31/5/2026), di Medical Care Alharom, Mekkah, Arab Saudi setelah sempat menjalani perawatan medis.

Hasan menjelaskan, Yuwono Soewalidi meninggal dunia akibat tekanan darah tinggi yang kemudian mengganggu fungsi kerja jantungnya hingga menjadi tidak stabil. Sebelum wafat, Yuwono bersikeras untuk melaksanakan prosesi lontar jumrah secara fisik, meskipun kondisi fisiknya sudah tampak kelelahan.

“Jantungnya tidak stabil. Waktu itu almarhum memaksakan diri untuk melempar jumrah, padahal napasnya sudah ngos-ngosan. Perjalanan untuk lempar jumrah itu jauh, lebih dari 10 kilometer dengan berjalan kaki. Padahal oleh petugas sudah dilarang dan tidak dibolehkan berangkat karena faktor risiko, tapi Pak Yuwono tetap bersikeras,” ungkap Hasan.

Yuwono kemudian jatuh pingsan dalam perjalanan menuju rumah sakit ketika masih berada di awal jalur pelontaran Jumrah Aqabah di Mina.

Baca Juga:  Jelang Puncak Ibadah Haji, Jemaah Indonesia Diimbau Bijak Atur Aktivitas

“Istrinya sudah merasa saat perjalanan ke rumah sakit menggunakan ambulans, suaminya seperti sudah tidak bergerak. Benar saja, tidak lama setelah sampai di rumah sakit, Yuwono dinyatakan meninggal,” jelasnya.

Hasan menambahkan, Yuwono diduga memiliki riwayat sakit tersembunyi yang tidak diceritakan kepada anak-anaknya sebelum berangkat.

Sementara itu, untuk jemaah kedua, Mistari Bin Kastomo, juga meninggal dunia karena masalah tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dan tidak stabil, yang kemudian berdampak ke jantung. Berbeda dengan Yuwono, Mistari drop setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah di Mina.

“Pak Mistari ini sudah pulang dari Mina. Sebelum berangkat ke Arafah, beliau sempat marah-marah, kemungkinan karena tekanan darah tingginya naik,” papar Hasan.

Secara medis, saat pemeriksaan awal di rumah sakit tidak terlihat indikasi apa-apa, tetapi kemudian kondisinya menurun. Beliau juga sempat mengalami buang air besar (diare) selama mengikuti prosesi lempar jumrah.

Mistari dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 31 Mei 2026 pukul 16.17 waktu Arab Saudi setelah sempat mendapatkan perawatan intensif selama satu hari di rumah sakit.

“Jadi sebelum berangkat memang kondisi fisiknya rentan penyakit untuk Pak Mistari. Kalau Pak Yuwono tidak ada gejala apa pun sebelum berangkat, tetapi mungkin ada riwayat penyakit yang tidak diceritakan,” imbuhnya.

Sesuai dengan regulasi dan ketentuan hukum yang berlaku di Pemerintah Arab Saudi, jenazah jemaah haji yang meninggal dunia di Tanah Suci tidak dapat dipulangkan ke tanah air.

“Untuk kedua jemaah tersebut, semuanya dimakamkan di Makkah Al-Mukarramah. Regulasi di sana memang tidak memperbolehkan jenazah dibawa pulang. Sesuai ketentuan,” pungkasnya.

Pos terkait