Haul Bung Karno ke-55, Blitar Jadi Magnet Spiritualitas Nasional

Surabaya, (DOC) – Peringatan Haul ke-55 Bung Karno di Kota Blitar, Sabtu (21/6/2025), menjadi momen penuh makna bagi masyarakat Indonesia. Ribuan warga memadati kawasan Makam Bung Karno dan Istana Gebang untuk memberikan penghormatan kepada sang proklamator.

Bacaan Lainnya

Acara ini tak sekadar seremonial. Ia menjadi ruang refleksi atas perjuangan, nilai kebangsaan, dan warisan pemikiran Bung Karno yang terus relevan hingga hari ini.

Ketua DPP sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, MH Said Abdullah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menyoroti kolaborasi antara masyarakat, Pemerintah Kota Blitar, dan partai politik yang berhasil menghidupkan semangat gotong royong.

“Kami berterima kasih atas kerja sama yang baik. Tahun ini haul Bung Karno terasa sangat istimewa,” ujar Said.

Keistimewaan itu muncul karena satu hal penting: MPR RI telah mencabut TAP MPRS No. 33/MPRS/1967. Tap ini sebelumnya menjadi dasar pencabutan kekuasaan Bung Karno. Menurut Said, langkah ini bukan sekadar legalitas, tetapi pemulihan martabat sejarah bangsa.

“Setelah 57 tahun, keadilan sejarah bagi Bung Karno akhirnya di tegakkan,” tegasnya.

Rangkaian acara haul berlangsung meriah dan khidmat. Mulai dari kegiatan budaya “Mustika Rasa” di Istana Gebang, pengajian dan tahlil bersama Gus Muwafiq, hingga Salawatan Akbar dan ziarah nasional di Makam Bung Karno.

Salawatan Akbar menjadi puncak spiritual haul. Ribuan tumpeng di jajarkan sepanjang jalan dari makam menuju Istana Gebang. Usai doa bersama, warga melakukan kenduri rakyat dengan suasana penuh khidmat dan kekeluargaan.

Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar mengenang. Ia menjadi upaya membumikan kembali nilai perjuangan Bung Karno kepada generasi muda.

“Haul ini adalah ruang untuk menghidupkan kembali ajaran Bung Karno dalam kehidupan berbangsa,” kata Syauqul.

Kehadiran Tokoh Nasional

Suasana juga semakin bermakna dengan kehadiran tokoh-tokoh nasional. Gus Muwafiq, ulama asal Yogyakarta, menyebut Bung Karno sebagai “danyang bangsa”—sosok yang menjadi panutan spiritual dan moral rakyat Indonesia.

Baca Juga:  Cak Eri Ajak Pelajar Sebarkan Semangat Bung Karno Lewat Konten Kreatif

“Bung Karno bukan hanya bapak bangsa. Ia adalah leluhur yang menghidupkan semangat Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Ganjar Pranowo mewakili keluarga Bung Karno dalam acara tersebut. Ia menyebut Bung Karno sebagai “api perjuangan yang tak padam”. Menurut Ganjar, haul ini menjadi bukti nyata bahwa semangat Bung Karno tetap menyala di hati rakyat.

“Acara ini sangat membanggakan. Jika terus di gelar tiap tahun, Blitar akan menjadi magnet spiritual Indonesia,” ujar Ganjar.

Tak hanya tokoh politik dan agama, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar juga hadir dan menyampaikan tausiah kebangsaan. Ia menekankan bahwa Bung Karno adalah teladan yang menggabungkan nasionalisme dan spiritualitas.

“Beliau tidak pernah memisahkan agama dari perjuangan. Nilai Islam menjadi fondasi keberpihakannya pada rakyat,” tutur Nasaruddin.

Rangkaian haul juga menampilkan berbagai kegiatan budaya dan pentas seni. Masyarakat menikmati suasana pasar jadul, kuliner tradisional, dan pementasan bernuansa perjuangan. Semua ini di rancang agar nilai-nilai Bung Karno dapat di rasakan, bukan hanya di ingat.

Haul tahun ini menjadi penanda penting bahwa sejarah bukan untuk di lupakan, melainkan untuk di jaga, dihidupkan, dan diwariskan. Bung Karno adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Ia bukan hanya milik masa lalu, tapi bagian dari masa depan bangsa. (r6)

Pos terkait