
Pasuruan, (DOC) – Upaya penanganan stunting secara terintegrasi dan berkelanjutan terus digencarkan. Sebagai langkah mengintervensi status gizi anak-anak yang terindikasi stunting, Program Protein Cegah Stunting kembali digulirkan dan kini resmi memasuki pelaksanaan tahap keempat.
Dalam tahap ini, sebanyak 12.000 butir telur disalurkan kepada keluarga penerima manfaat. Setiap anak yang terindikasi stunting akan mendapatkan alokasi 60 butir telur per bulan selama enam bulan berturut-turut sebagai pemenuhan asupan protein hewani yang krusial bagi tumbuh kembang mereka.
Penanganan stunting yang efektif tidak dapat mengandalkan program temporer atau sekali selesai. Memastikan konsistensi asupan nutrisi menjadi fokus utama dalam agenda penanganan kali ini.
“Pencegahan dan penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan butuh dukungan yang berkelanjutan. Melalui program ini, kami ingin memastikan anak-anak penerima manfaat mendapatkan pasokan protein yang cukup secara konsisten untuk menunjang tumbuh kembang mereka,” ujar Branch Manager Alfamidi Cabang Pasuruan, Deni Firmanto, Senin (29/6/2026).
Agar penanganan berjalan optimal dan tepat sasaran, program yang menyasar 50 anak ini tidak sekadar membagikan bantuan pangan, tetapi juga mengintegrasikan sistem pemantauan medis.
Langkah penanganan di lapangan diperkuat oleh sinergi dengan tenaga kesehatan (nakes) dari sejumlah puskesmas setempat. Para nakes bertugas untuk memantau perkembangan fisik (tinggi dan berat badan) anak secara berkala, dan memberikan edukasi langsung kepada orang tua mengenai pola makan bergizi seimbang.
Pendamping program dari UPT Puskesmas Kebonagung, Hapsari Widowati, menegaskan bahwa intervensi gizi berbasis protein hewani seperti telur adalah salah satu strategi paling efektif dalam memperbaiki status gizi anak secara signifikan.
“Intervensi gizi langsung seperti ini sangat membantu, terutama bagi keluarga yang membutuhkan dukungan tambahan untuk memenuhi kebutuhan protein anak. Dengan konsumsi yang rutin dan pola makan yang baik, kami optimistis progres pertumbuhan fisik anak bisa semakin optimal,” jelas Hapsari.
Dampak positif dari fokus penanganan ini mulai terlihat dari meningkatnya antusiasme serta kesadaran para orang tua. Selain terbantu secara ekonomi dalam pemenuhan pangan bergizi, para ibu kini lebih memahami pentingnya pemenuhan nutrisi sejak dini sebagai fondasi utama pencegahan gagal tumbuh pada anak.
Keberhasilan penanganan stunting pada akhirnya bertumpu pada tiga pilar utama, yakni konsistensi pemenuhan gizi, pendampingan ketat dari tenaga kesehatan, serta komitmen aktif dari pihak keluarga.
Sinergi inilah yang diharapkan dapat membebaskan anak-anak di Pasuruan dari ancaman stunting dan mempersiapkan mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat dan optimal.





