Probolinggo,(DOC) – Pemerintah provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) terus memperkuat produksi susu dalam negeri, salah satu upaya terbaru adalah mendatangkan 1.080 ekor sapi perah bunting dari Australia.
Sapi-sapi ini akan dikelola peternak mitra PT Greenfields Indonesia di lima wilayah: Malang, Blitar, Kediri, Pasuruan, dan Kota Batu.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyambut langsung kedatangan sapi tersebut dan menyampaikan optimisme tinggi.
“Kehadiran sapi perah ini akan meningkatkan produksi susu sekaligus memperkuat ekonomi peternak,” ujar Khofifah.
Sapi yang didatangkan merupakan hasil persilangan ras Holstein dan Jersey. Kedua ras ini terkenal sebagai penghasil susu berkualitas tinggi.
Kebutuhan MBG dan Swasembada Susu
Produksi susu dari sapi-sapi ini akan di gunakan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mendorong swasembada susu nasional.
“Dengan Greenfields sebagai pembeli tetap, peternak tidak perlu khawatir soal penjualan,” tambah Khofifah.
Dampak Wabah PMK dan Pemulihan Populasi
Pada 2021, Jawa Timur memiliki 305.708 sapi perah. Namun pada 2022, wabah PMK menurunkan populasi menjadi 282.364 ekor.
Kini, populasi sapi perah mulai pulih. Data akhir 2024 menunjukkan jumlahnya meningkat menjadi 292.265 ekor, naik 9.900 ekor dari tahun sebelumnya.
Jawa Timur kini menyumbang 60% populasi sapi perah nasional, menjadikannya daerah sentral dalam produksi susu Indonesia.
Total 3.300 Sapi Impor Masuk Jatim Tahun Ini
Selain dari Greenfields, PT Bumi Rojokoyo Banyuwangi dan PT Bumi Kironggo Joyo Bondowoso juga mengimpor sapi. Keduanya membawa 2.200 ekor sapi perah tambahan.
Dengan begitu, total impor sapi perah ke Jatim sepanjang 2025 mencapai 3.300 ekor.
PT Greenfields juga berencana menambah 10.000 sapi perah lagi untuk mengisi peternakan barunya di Blitar.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Agung Suganda menyatakan dukungan penuh terhadap rencana ini. Ia juga memastikan perizinan berjalan lancar dengan bantuan Badan Karantina Indonesia.
Swasta dan Peternak Lokal: Kunci Sukses
Komisaris Utama JAPFA, Syamsir Siregar, menegaskan bahwa program ini tidak berhenti di impor sapi.
“Kami juga memberi pelatihan, pembinaan teknis, dan pendampingan peternak agar mereka bisa mandiri,” ujarnya.
Khofifah berharap kerja sama pemerintah, swasta, dan peternak ini menjadi langkah strategis menuju ketahanan pangan berbasis peternakan rakyat.(r7)





