
Lumajang, (DOC) – Jumlah penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (BLT DBHCHT) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami penurunan drastis pada tahun 2026. Kuota penerima bantuan tahun ini dipangkas hingga tersisa 4.293 warga, berkurang 2.644 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Lumajang, Indriono Krishna Murti, mengungkapkan bahwa efisiensi anggaran dari pemerintah pusat menjadi penyebab utama anjloknya jumlah penerima maupun nominal bantuan yang disalurkan.
“Alokasi DBHCHT tahun ini memang menurun banyak dibandingkan sebelum adanya efisiensi anggaran pemerintah pusat,” kata Indriono, Senin (24/8/2026).
Sebagai pembanding, pada 2025 alokasi BLT DBHCHT di Lumajang mencapai 6.937 penerima manfaat. Saat itu, sasaran bantuan mencakup 6.465 buruh tani tembakau, 145 pekerja pabrik rokok, 10 pekerja pabrik rokok nonproduksi, dan 317 warga miskin.
Namun pada 2026, dari total 4.293 penerima yang tersisa, alokasinya dialihkan untuk 3.525 buruh tani tembakau, 250 buruh pabrik rokok, 250 korban bencana erupsi tahun lalu, dan 268 warga kategori miskin yang terdaftar dalam desil 1 hingga 5 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Tak hanya jumlah warga penerima yang menyusut, nominal bantuan yang diterima masyarakat pun ikut melorot separuhnya.
Pada 2025, setiap penerima mendapatkan total bantuan sebesar Rp1,2 juta (Rp300 ribu per bulan selama empat bulan).
Sementara tahun ini, total bantuan yang disiapkan hanya sebesar Rp600 ribu per orang untuk durasi dua bulan yang disalurkan sekaligus.
Dengan penurunan skala bantuan ini, total anggaran yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk BLT DBHCHT 2026 menyusut menjadi Rp2,5758 miliar.
Untuk memastikan sisa kuota bantuan tepat sasaran, Indriono menyebutkan penetapan penerima dilakukan melalui proses validasi ketat bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan asosiasi tembakau.
“Validasi melibatkan Disnaker, Diskopindag, dan Dinas Pertanian untuk pendataan petani tembakaunya,” jelasnya.
Meski alokasi anggaran dan jumlah penerima mengalami pemangkasan signifikan, Indriono berharap bantuan yang disalurkan tetap mampu meringankan beban ekonomi warga, terutama para buruh tani tembakau.
“Terutama pada buruh tani tembakau, setidaknya dalam situasi ekonomi sepi seperti ini dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka,” pungkas Indriono.





