
Surabaya,(DOC) – Di tengah perayaan Hari Jadi Kota Surabaya ke-732, pelantikan ratusan pejabat oleh Wali Kota Eri Cahyadi memunculkan banyak tanda tanya. Bertajuk Kabinet Surabaya Berkah, rotasi ini bukan sekadar penyegaran birokrasi.
Di antara wajah-wajah baru, terselip sejumlah pejabat lama, nama-nama yang tak asing di era Wali Kota Tri Rismaharini. Mereka kembali menempati posisi strategis, menandai semacam “jejak Risma” dalam kabinet anyar Eri Cahyadi.
Spekulasi pun bermunculan. Apakah ini hanya kebetulan administratif, atau ada sinyal politik dari sang mentor? Kecurigaan ini muncul setelah Eri memposting video pertemuan dengan Risma pada 9 April lalu di akun Instagram-nya.
Video itu menunjukkan kedekatan personal dan profesional antara keduanya. Dalam foto lain yang diterima redaksi, Risma juga tampak bertemu Eri bersama sejumlah pejabat yang kini kembali menjabat.
Konsolidasi birokrasi? Atau penguatan jaringan loyalis?
Menurut pakar komunikasi politik Universitas Airlangga, Dr. Suko Widodo, rotasi ini adalah langkah yang logis.
“Ini hasil evaluasi dari periode pertama Eri. Ia merespons kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, terutama dalam pelayanan publik,” kata Suko, Rabu (4/6/2025).
Ia melihat kombinasi pejabat lama dan baru sebagai strategi memperkuat kinerja birokrasi.
“Pejabat lama dari era Risma itu sudah teruji dalam pelayanan dan disiplin kerja. Mereka mampu menjabarkan visi kota dengan baik,” lanjutnya.
Lebih jauh, Suko menilai rotasi ini tidak bisa dilepaskan dari konteks politik.
“Pergantian jabatan ini bukan hanya administratif, tapi juga langkah strategis. Ini mencerminkan dinamika politik yang sehat, sekaligus kebutuhan nyata untuk memperkuat birokrasi agar lebih responsif dan akuntabel,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya SDM yang kapabel dan loyal untuk menghadapi tantangan pelayanan publik yang semakin kompleks. Menurutnya, momentum ini bisa jadi titik balik memperkuat struktur birokrasi Kota Surabaya menuju fase pembangunan yang lebih matang dan terukur.(r7)





