
Jakarta,(DOC) – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Perbukuan menggelar Festival Seni Jalanan. Festival ini bertajuk Warna untuk Bumi pada Minggu (1/6), berlokasi di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi lintas organisasi—Yayasan WWF Indonesia, INOVASI, Earth Hour Indonesia, dan Komunikasi Literasi, sebagai bentuk kampanye kreatif isu lingkungan dan perubahan iklim melalui pendekatan seni dan literasi.
Pengunjung menikmati berbagai aktivitas interaktif yang menggabungkan seni dan edukasi. Ada sesi melukis kanvas bersama Bartega, mural kolaboratif bertema Bumi dan Pendidikan Berkelanjutan, kampanye poster Lindungi Bumi, hingga pembagian 200 buku cerita anak secara gratis. Peserta juga di ajak membawa pulang art kit sebagai ajakan untuk terus berkarya dan menyuarakan cinta terhadap bumi.
Wakil Direktur Program INOVASI, Feiny Sentosa, menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Australia, dengan fokus utama pada peningkatan mutu pendidikan dasar. Melalui pendekatan seni, literasi, dan inklusi, INOVASI ingin membangun pembelajaran yang inklusif sekaligus memperkuat ketahanan iklim anak.
“Anak-anak perlu di bekali bukan hanya pemahaman tentang perubahan iklim, tapi juga keterampilan dan motivasi untuk menjaga lingkungan. Sekolah harus jadi ruang yang aman dan berkelanjutan untuk semua, termasuk anak-anak penyandang disabilitas,” ujar Feiny.
Literasi Sebagai Pondasi Pendidikan Iklim
Senada dengan itu, Kepala Pusat Perbukuan, Supriyatno, menegaskan pentingnya literasi sebagai pondasi pendidikan iklim. Baginya, literasi tak sebatas kemampuan membaca, tapi juga kemampuan berpikir kritis dan memahami isu-isu global seperti krisis iklim.
“Generasi muda harus di persiapkan untuk menghadapi tantangan zaman. Mereka bukan hanya objek pendidikan, tapi subjek perubahan yang bisa membuat perbedaan,” katanya.
Manajer Iklim dan Energi WWF Indonesia, Ari Mochamad Arif, menambahkan bahwa membangun ketangguhan terhadap perubahan iklim memerlukan tiga hal: kepemimpinan yang aktif, partisipasi publik yang luas, dan peran nyata dari sektor swasta.
“Semangat menyalahkan harus di tinggalkan. Ini bukan soal siapa yang salah, tapi bagaimana semua pihak bisa bertindak bersama. Kolaborasi adalah kunci,” tegasnya.
Festival ini di tutup dengan kesan dari para peserta. Fajar, pelajar asal Serang, mengaku antusias mengikuti kegiatan ini.
“Kita bisa mengekspresikan ide lewat seni. Semoga ke depannya bisa lebih banyak inovasi seperti ini,” ucapnya.
Sementara itu, Aliya, mahasiswa STIS, menyoroti pentingnya membangun literasi dari rasa ingin tahu.
“Kalau kita punya rasa penasaran, kita akan terdorong untuk membaca dan mencari tahu. Festival ini memberi banyak wawasan dan di kemas dengan rapi. Salut untuk panitia,” tutupnya. (r6)





