D-ONENEWS.COM

Kampanye Imunisasi, Pemerintah dan UNICEF Kejar Penurunan Signifikan pada Anak Indonesia

Jakarta,(DOC) – Dengan dukungan UNICEF, Pemerintah Indonesia mengejar ketertinggalan kemunduran yang signifikan dalam imunisasi anak akibat pandemi COVID-19.

Data global baru yang di terbitkan oleh WHO dan UNICEF, Rabu(15/7/2022), terungkap penurunan terbesar dalam vaksinasi anak-anak dalam kurun waktu 30 tahun.

Hingga di tahun 2021. Terdapat 25 juta anak melewatkan satu atau lebih dosis vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP3) yang biasanya di berikan lewat layanan imunisasi rutin.

Dari data tersebut, 18 juta anak di antaranya tidak menerima dosis tunggal DTP sepanjang tahun. Sebagian besar mereka tinggal di India, Nigeria, Indonesia, Ethiopia dan Filipina.

Cakupan vaksin turun di setiap wilayah, dengan wilayah Asia Timur dan Pasifik mencatat kebalikan paling tajam dalam cakupan DPT3. Turun sembilan poin persentase hanya dalam waktu dua tahun.

Penurunan ini di sebabkan oleh banyak faktor termasuk peningkatan jumlah anak yang hidup dalam kondisi konflik dan riskan. Di mana akses imunisasi sering kali menantang. Lalu meningkatnya informasi yang salah dan masalah COVID-19. Seperti gangguan layanan dan rantai pasokan, pengalihan sumber daya ke upaya respons, dan berbagai kondisi yang membatasi akses dan ketersediaan layanan imunisasi.

Di Indonesia, ada lebih dari enam juta kasus COVID-19 dan lebih dari 156.500 kematian. Data ini adalah salah satu jumlah kasus terbesar di Asia Tenggara.

Pandemi tersebut menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Sebuah studi UNICEF baru-baru ini (2021) menemukan. Bahwa tiga dari empat rumah tangga dengan anak-anak melaporkan tantangan dalam mengakses layanan perawatan kesehatan. Satu dari empat merasa kesulitan mencari pengobatan untuk anak-anak yang sakit, dan satu dari sepuluh tidak dapat mengakses imunisasi.

Cakupan imunisasi dasar lengkap turun dari 84,2 persen pada 2020 menjadi 79,6 persen pada 2021. Ini menjadikan anak-anak Indonesia berisiko tertular penyakit yang dapat di cegah dengan vaksin. Seperti difteri, tetanus, campak, rubella, dan polio.

“Penurunan besar dalam imunisasi rutin di Indonesia. Ini telah menyebabkan jutaan anak berada dalam situasi kesehatan yang genting,” kata Pelaksana Tugas Perwakilan UNICEF Robert Gass.

UNICEF bersama para mitra saat ini mendukung kampanye untuk mengejar ketertinggalan. Kampanye di pimpin Pemerintah dengan nama BIAN. Selama kampanye, satu dosis imunisasi campak-rubela di berikan kepada kelompok sasaran sesuai dengan rekomendasi yang di tetapkan untuk masing-masing wilayah. Satu atau lebih jenis imunisasi lain seperti polio, juga dapat di berikan untuk melengkapi status imunisasi anak balita.

“Situasi ini menjadikan kejar imunisasi mendesak dan penting, di saat kita terus berupaya pulih dari dampak COVID-19. Pemerintah Indonesia bekerja tanpa lelah dengan dukungan UNICEF. Menjangkau sebanyak mungkin anak. Termasuk mereka yang berada di daerah tertinggal dan terpencil,” tambahnya.

Tahap pertama BIAN di mulai Mei 2022 hingga akhir Juli. Menargetkan 27 juta anak di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Tahap kedua akan berlangsung pada Agustus di Jawa dan Bali.

Secara global, vaksin menyelamatkan lebih dari lima nyawa setiap menit. Mencegah hingga tiga juta kematian per tahun.

Vaksin merupakan salah satu kemajuan paling signifikan dalam kesehatan dan pembangunan global.

Anak-anak yang di vaksinasi tidak hanya lebih sehat. Tapi berprestasi lebih baik di sekolah sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi yang mempengaruhi seluruh masyarakat.(r7)

Loading...

baca juga